Kegiatan yang berlangsung hingga 15 Agustus 2026 itu mengusung tema “Belajar, Berkarya, Memimpin Menuju Generasi Emas Buru Selatan 2045” dan diikuti ribuan peserta dari berbagai sekolah di Kabupaten Buru Selatan.
Wakil Bupati Buru Selatan, Gerson Eliaser Selsily, dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa perkemahan bukan sekadar aktivitas di alam terbuka, tetapi merupakan bagian penting dari investasi pemerintah daerah dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurut Selsily, pelaksanaan perkemahan di Alun-Alun Kota Namrole menjadi momentum bersejarah karena merupakan terobosan baru dalam pembinaan generasi muda sejak Kabupaten Buru Selatan terbentuk.
“Mungkin ini merupakan sejarah awal bahwa kita bisa membangun kemah di alun-alun ini. Sejak kabupaten ini berdiri, baru kali ini kita melakukan sebuah terobosan baru dalam pembinaan generasi muda dan pembinaan karakter anak-anak kita,” ujar Selsily.
Ia mengatakan, kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan. Pengetahuan harus berjalan beriringan dengan karakter, mental yang kuat, integritas, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama.
“Bicara knowledge saja tidak cukup. Kepintaran saja tidak cukup. Pendidikan karakter juga sangat penting dan strategis,” tegasnya.
Selsily bahkan melihat ribuan peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut sebagai gambaran masa depan Buru Selatan. Di hadapan para peserta, ia menyebut mereka sebagai calon pemimpin yang kelak akan menentukan arah pembangunan daerah dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
“Di hadapan saya hari ini adalah calon-calon pemimpin yang akan membawa kemajuan daerah ini 10 hingga 20 tahun yang akan datang,” katanya.Ia mengingatkan bahwa generasi muda Buru Selatan akan menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi, arus digitalisasi dan derasnya informasi telah mengubah pola kehidupan masyarakat.
Karena itu, menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya unggul dalam pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus memiliki fondasi karakter yang kokoh, mental tangguh dan integritas yang tidak mudah goyah.
“Bangsa yang besar tidak hanya dibangun di atas kecerdasan akademis, tetapi juga di atas fondasi karakter yang kokoh, mental yang tangguh dan integritas yang tidak tergoyahkan,” ujarnya.
Tiga Pesan untuk Generasi Muda
Dalam kesempatan itu, Selsily menitipkan tiga pesan utama kepada seluruh peserta perkemahan sebagai bekal dalam membangun masa depan.
Pertama, kemandirian dan ketangguhan.
Ia meminta para peserta untuk sejenak melepaskan ketergantungan terhadap gawai dan kenyamanan di rumah. Alam terbuka, menurutnya, merupakan ruang pembelajaran nyata untuk melatih kemampuan mengelola diri, menghadapi keterbatasan, serta membangun ketangguhan fisik dan mental.
“Belajarlah mengelola diri sendiri dan tangguh menghadapi tantangan cuaca serta kondisi fisik di alam terbuka,” pesannya.
Kedua, semangat gotong royong dan persaudaraan.
Selsily mengingatkan bahwa dalam gerakan Pramuka tidak boleh ada sekat berdasarkan asal sekolah, kecamatan maupun latar belakang. Semua peserta harus berdiri sebagai satu keluarga besar.
“Di sini tidak ada sekat asal sekolah, kecamatan atau latar belakang. Semua bersaudara dalam satu tenda dan satu tekad. Hilangkan ego pribadi demi keberhasilan bersama,” katanya.
Nilai persaudaraan tersebut, lanjut Selsily, sejalan dengan nilai adat dan budaya Buru Selatan, yakni Kai Wait, yang bermakna hidup sebagai orang bersaudara, seperti adik dan kakak.
Menurutnya, nilai Kai Wait harus terus dipelihara sebagai perekat kehidupan masyarakat Buru Selatan, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan media sosial.
“Kebebasan berekspresi melalui media sosial harus tetap diiringi etika komunikasi, kesantunan dan kecerdasan dalam menggunakan ruang digital,” tegasnya.
Ketiga, integritas dan kedisiplinan.
Selsily meminta seluruh peserta untuk membangun kebiasaan jujur, taat terhadap aturan, menghargai waktu dan bertanggung jawab terhadap setiap tugas yang diberikan.
“Jadilah pribadi yang jujur pada diri sendiri, taat pada aturan perkemahan dan menghargai waktu. Karakter inilah yang akan membuat kalian dihormati di mana pun kalian berada,” katanya.
Pramuka dan Kepedulian Lingkungan
Selain pembentukan karakter, Wakil Bupati juga mengingatkan peserta untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan selama berada di bumi perkemahan.
Ia berharap Gerakan Pramuka Buru Selatan dapat menjadi contoh terdepan dalam membangun kesadaran masyarakat untuk mencintai dan merawat lingkungan.
“Jangan tinggalkan sampah apa pun di tanah ini. Pramuka Buru Selatan harus menjadi contoh terdepan dalam mencintai dan merawat lingkungan daerah ini,” pesannya.
Kepada para camat, kepala sekolah, pembina, pendamping dan panitia, Selsily menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia meminta seluruh pihak yang terlibat menempatkan keselamatan, kesehatan dan pembinaan peserta sebagai prioritas utama.
“Saya percayakan sungguh keselamatan dan pembinaan terhadap anak-anak kita di tangan ibu, bapak dan saudara sekalian. Berikan dedikasi terbaik. Bimbing mereka dengan metode yang edukatif, humanis dan penuh kasih sayang,” ujarnya.
Diikuti Ribuan Peserta
Sementara itu, Ketua Panitia Perkemahan Pendidikan dan Penguatan Karakter Buru Selatan 2026, Ruslan Kharie, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut lahir sebagai langkah strategis Kwarcab Gerakan Pramuka Buru Selatan untuk memperkuat karakter, mental dan nasionalisme generasi muda.
Kegiatan ini juga menjadi alternatif pembinaan setelah keterbatasan anggaran membuat peserta Buru Selatan tidak dapat mengikuti Jambore Nasional di Cibubur, Jakarta.
Pelaksanaan kegiatan kemudian dirancang melalui koordinasi antara Kwarcab Buru Selatan, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, Dinas Pendidikan, serta Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku.
Ruslan menjelaskan, sebanyak 116 sekolah atau gugus depan telah mendaftarkan diri. Terdiri atas 61 sekolah tingkat SD/Siaga, 41 sekolah tingkat SMP/Penggalang dan 14 sekolah tingkat SMA/Penegak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 79 sekolah hadir dalam pelaksanaan perkemahan, terdiri atas 33 sekolah Siaga, 33 sekolah Penggalang dan 13 sekolah Penegak.
Berdasarkan laporan panitia, peserta yang hadir terdiri atas 557 peserta Siaga, 537 peserta Penggalang dan 207 peserta Penegak. Selain peserta, terdapat pula sekitar 237 pembina, pendamping dan kepala sekolah.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena rombongan peserta dari Kecamatan Kepala Madan masih dalam perjalanan menuju lokasi kegiatan.
Selama perkemahan, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat karakter, kedisiplinan, kebersamaan, nasionalisme dan kecintaan terhadap lingkungan. Agenda tersebut dikemas melalui kegiatan edukatif, perlombaan, bela negara, pengenalan kearifan lokal, festival seni hingga api unggun.
Dari Alun-Alun Namrole untuk Masa Depan Buru Selatan
Menutup sambutannya, Selsily berharap perkemahan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Ia mendorong agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai ruang untuk memperkuat kapasitas, karakter sekaligus mempererat persaudaraan generasi muda dari seluruh wilayah Buru Selatan.
“Ke depan kita akan terus melakukan kegiatan yang sama. Yang penting adalah penguatan kapasitas, penguatan karakter dan yang lebih penting adalah saling mengenal serta saling bersilaturahmi,” katanya.
Ia menyebut wilayah Waesama, Ambalau, Namrole, Leksula, Fenampapan hingga Kepala Madan sebagai bagian dari satu keluarga besar Buru Selatan.
“Kita semua adalah keluarga. Bumi Fuka Bupolo,” tegasnya.
Kepada seluruh peserta, Selsily berpesan agar mereka menjadikan perkemahan tersebut sebagai momentum untuk menempa diri dan mempersiapkan masa depan.
“Jadilah generasi kebanggaan keluarga, kebanggaan sekolah dan jadilah pilar tangguh yang siap memajukan Kabupaten Buru Selatan di masa depan,” pungkasnya. (AL)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |


