Close
Close
Orasi Rakyat News

Dinas Kesehatan Bursel Perkuat Komitmen Turunkan Stunting dan Waspadai Penyebaran HIV/AIDS

NAMROLE – Pemerintah Kabupaten Buru Selatan (Bursel) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui Dinas Kesehatan yang dipimpin Yurdin Halibi, Pemkab Buru Selatan menggelar Pertemuan Koordinasi dan Komitmen Stakeholder Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Gizi, dan Kesehatan Reproduksi di Aula Penginapan Denis, Desa Kamlanglale, Kecamatan Namrole, Senin (27/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat penurunan angka stunting, meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, sekaligus mengantisipasi potensi penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Buru Selatan.

Pertemuan dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Buru Selatan Prof. Ali Awan, unsur TNI-Polri, para staf ahli bupati, para asisten Setda, pimpinan organisasi perangkat daerah, Direktur RSUD Namrole, enam camat, serta kepala puskesmas dari seluruh kecamatan di Kabupaten Buru Selatan.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Buru Selatan Gerson Eliasee Selsily menegaskan bahwa persoalan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat.

"Stunting adalah tanggung jawab kita bersama. Seluruh perangkat daerah harus bergerak dalam satu langkah untuk memastikan anak-anak Buru Selatan tumbuh sehat dan menjadi generasi yang berkualitas," tegasnya.

Selain fokus pada percepatan penurunan stunting, Wakil Bupati juga mengingatkan seluruh jajaran tenaga kesehatan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran HIV/AIDS yang mulai menjadi perhatian di Kabupaten Buru Selatan.

Ia meminta seluruh kepala puskesmas memperkuat deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta langkah-langkah pencegahan secara terpadu, terutama di wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi.

"Kita harus lebih waspada. Deteksi dini harus diperkuat sehingga penyebaran HIV/AIDS dapat dicegah sejak awal. Jangan sampai kita terlambat mengambil langkah. Semua tenaga kesehatan harus hadir memberikan edukasi dan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujarnya.

Wakil Bupati juga menyinggung pentingnya pengawasan terhadap kawasan-kawasan yang berpotensi menjadi titik penyebaran penyakit menular, termasuk aktivitas masyarakat di sekitar kawasan Gunung Botak, serta lokasi-lokasi hiburan malam yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan tenaga kesehatan.

Menurutnya, pembangunan kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan Kabupaten Buru Selatan.

"Mustahil kita menghasilkan generasi unggul apabila kesehatan ibu hamil, bayi, balita, dan remaja putri belum menjadi perhatian utama. Karena itu, Program KIA dan Gizi harus menjadi prioritas pembangunan daerah," katanya.

Ia menegaskan, forum koordinasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus melahirkan langkah nyata yang dapat diukur.

Setiap permasalahan, kata dia, harus memiliki solusi, setiap target harus memiliki penanggung jawab, dan setiap program wajib disertai mekanisme monitoring serta evaluasi yang jelas.

Dalam arahannya, Wakil Bupati meminta seluruh pemangku kepentingan memprioritaskan penurunan angka kematian ibu melalui peningkatan pelayanan antenatal, deteksi dini kehamilan berisiko, penguatan sistem rujukan maternal dan neonatal, serta memastikan seluruh ibu melahirkan di fasilitas kesehatan yang memenuhi standar pelayanan.

Di sisi lain, upaya menekan angka kematian bayi harus dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan persalinan, imunisasi lengkap, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga penanganan cepat terhadap bayi yang mengalami komplikasi.

Sementara itu, percepatan penurunan stunting diminta dimulai sejak masa pra-kehamilan melalui pendampingan calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, pemantauan ibu hamil berisiko, pemberian makanan pendamping ASI yang berkualitas, hingga optimalisasi pelayanan Posyandu.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak mungkin dicapai hanya oleh Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, TP PKK, kader Posyandu, organisasi profesi, dunia usaha, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat.

Melalui pertemuan koordinasi ini, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pelayanan kesehatan dasar, mempercepat penurunan angka stunting, menekan angka kematian ibu dan bayi, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Seluruh hasil rapat akan dituangkan dalam rencana aksi yang terukur sebagai langkah nyata mewujudkan masyarakat Buru Selatan yang sehat, produktif, dan berkualitas. (AL) 

Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama