![]() |
| Ilustrasi |
Kasus ini kemudian menyeret nama Bupati Buru Selatan, La Hamidi, karena pelaku disebut-sebut merupakan orang yang mengaku dekat dengan orang nomor satu di Buru Selatan tersebut. Namun, Bupati La Hamidi dengan tegas membantah keterlibatan dirinya dan menyebut dugaan pemotongan tersebut murni ulah oknum.
"Itu tidak benar. Saya punya hati, tidak setega itu kepada keluarga korban, apalagi sampai saat ini almarhum belum ditemukan," tegas Bupati La Hamidi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (25/7/2026).
Menurut Bupati, justru dirinya yang memerintahkan dinas terkait agar segera menyiapkan bantuan bagi keluarga korban sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
"Karena rasa peduli itulah saya memerintahkan agar keluarga korban diberikan santunan atas duka yang mereka alami. Masyarakat yang sedang mengalami kesusahan harus dibantu, bukan dimanfaatkan," ujarnya.
Bupati La Hamidi menegaskan, siapa pun yang memanfaatkan bantuan kemanusiaan untuk kepentingan pribadi telah mencederai nilai kemanusiaan dan tidak bisa dibenarkan.
"Harusnya mereka wajib dibantu, bukan dimanfaatkan sebab mereka sementara berduka," katanya dengan nada tegas.
Berawal dari Unggahan Facebook
Polemik ini bermula dari unggahan akun Facebook Do Tasane yang mengaku terjadi pemotongan dana santunan untuk keluarga korban kecelakaan laut, almarhum Irjan Tasane.
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa bantuan dari Pemerintah Kabupaten Buru Selatan senilai Rp10 juta diduga dipotong menjadi Rp8 juta. Dugaan pemotongan itu disebut dilakukan oleh seseorang yang mengaku dekat dengan Bupati usai pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-18 Kabupaten Buru Selatan.
Media ini kemudian menghubungi pemilik akun, Do Tasane, yang menjelaskan kronologi dugaan peristiwa tersebut.
Menurutnya, anak almarhum, Tesar Tasane, diundang ke Kota Namrole untuk menerima santunan dari Pemerintah Kabupaten Buru Selatan.
Usai mengikuti upacara HUT ke-18 Kabupaten Buru Selatan dan menerima amplop berisi santunan, Tesar diduga dijemput oleh seorang oknum berinisial S, lalu dibawa ke rumahnya di Desa Elfule, Kecamatan Namrole.
Di lokasi tersebut, menurut pengakuan Keluarga, amplop bantuan dibuka di hadapan Tesar.
"S minta amplop itu, lalu dibuka di depan anak almarhum. Setelah itu dia mengambil sebagian uang dan memasukkannya ke dalam tas miliknya. Baru setelah itu anak almarhum diantar pulang," ungkap Do Tasane kepada wartawan.
Sesampainya di rumah, Tesar kemudian menghubungi ibunya dan menceritakan kejadian tersebut. Setelah dihitung, nominal bantuan yang semula disebut sebesar Rp10 juta tersisa Rp8 juta.
Keluarga korban mengaku tidak mempersoalkan bantuan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Buru Selatan. Sebaliknya, mereka menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, khususnya kepada Bupati dan Wakil Bupati, atas perhatian yang diberikan di tengah musibah yang menimpa keluarga mereka.
Namun, mereka menilai tindakan oknum yang diduga mengambil sebagian dana santunan merupakan perbuatan yang tidak manusiawi dan tidak dapat ditoleransi. Apalagi untuk membenarkan perbuatannya, oknum tersebut turut menyeret nama orang nomor satu di kabupaten Buru Selatan.
"Kami sekeluarga berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, khususnya Bapak Bupati dan Wakil Bupati, karena sudah memperhatikan keadaan duka kami. Tetapi kalau benar ada oknum yang mengambil sebagian uang santunan itu, kami meminta agar segera dikembalikan. Ada janda dan anak yatim yang membutuhkan uang tersebut. Jika tidak, kami akan melaporkan persoalan ini kepada pihak berwajib," tegas pihak keluarga.
Mereka juga mengaku sempat mendapat tekanan dan ancaman setelah persoalan tersebut mencuat di media sosial, termasuk adanya pihak-pihak yang mencoba membawa-bawa nama Bupati.
Padahal, menurut keluarga, tindakan dugaan pengambilan sebagian dana santunan tersebut merupakan tanggung jawab pribadi oknum dan mereka sangat yakin tidak ada kaitannya dengan Bupati La Hamidi.
"Ini uang duka. Ini bentuk perhatian pemerintah kepada keluarga korban, bukan hasil jual kopra atau cokelat yang bisa dibagi sesuka hati. Oknum itu tubuhnya manusia, jiwanya manusia, tetapi kalau tega mengambil hak orang yang sedang berduka, di mana hati nuraninya?" ujar salah satu anggota keluarga dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari oknum berinisial S terkait tudingan tersebut. Media ini masih tetap membuka ruang klarifikasi guna memperoleh penjelasan dan menjaga keberimbangan pemberitaan. (Red)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

