Namlea - Semarak Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) Ke-62 digelar Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku melalui bazar produk warga binaan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai Lapas dan Rutan se-Maluku, Jumat (10/4).
Sebagai salah satu ajang untuk mempromosikan hasil dari tangan-tangan kreatif warga binaan, bazar tersebut ramai diserbu pengunjung baik tamu undangan maupun masyarakat sekitar. Salah satu yang menjadi daya tarik ialah produk khas dari daerah pulau buru yang ditampilkan stan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea.
Dalam kesempatan itu, Kepala Lapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy menyampaikan pihaknya memamerkan salah satu produk unggulannya yakni minyak kayu putih 86.
Minyak kayu putih yang sempat menjadi produk terlaris secara nasional dalam ajang Indonesian Prisons Products and Art Festival (IPPAFest) 2025 itu ditampilkan Lapas Namlea sebagai produk kesehatan yang telah banyak dikenali masyarakat.
"Kegiatan ini adalah sarana untuk mempromosikan karya-karya warga binaab khususnya dari Lapas Namlea melalui produk kebanggaannya minyak kayu putih. Produk asli dari daerah berjuluk bumi bupolo ini dihasilkan dan dibuat sendiri oleh warga binaan dari program pembinaan kemandirian yang telah kami gencarkan," ungkap Marasabessy.
Selain minyak kayu putih, Lapas Namlea juga menampilkan karya warga binaan lainnya seperti Virgin Coconut Oil (VCO) dan kerajinan tangan berbahan limbah plastik, seperti tas rajut, songkok, dan peci. "VCO merupakan minyak kelapa murni yang diekstrak dari daging kelapa segar tanpa proses kimiawi sedikit pun yang kaya akan manfaat. Disamping itu, kita juga mamerkan kerajinan yang dibuat dari hasil kreatifitas warga binaan," tambahnya.Keunikan dan kearifan lokal yang ditampilkan Lapas Namlea melalui produknya tak luput dari perhatian Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Bersama tamu undangan yang hadir, ia mengapresiasi Lapas Namlea yang telah memberdayakan warga binaan menjadi produktif dan berhasil menciptakan produk dengan ciri khasnya tersendiri.
"Bazar ini adalah ajang untuk membuktikan bahwa kreatifitas tidak bisa dikekang oleh jeruji besi. Produk-produk yang dihasilkan warga binaan Lapas Namlea serta UPT lainnya merupakan output positif dari pembinaan yang mereka jalani selama masa pidana," tutur Ricky.
Selain sebagai momen seremonial dalam rangka memperingati HBP Ke-62, bazar ini juga merupakan salah satu implementasi 15 program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk memasarkan produk warga binaan melalui koperasi dan UMKM. (LTO)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |


