![]() |
Oleh: IMMawan Kamirullah Fokaaya (Mahasiswa Agribisnis UMMU) |
Namun, minat generasi Z (Gen Z) terhadap sektor pertanian di Maluku Utara mengalami penurunan yang sangat drastis. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, keterlibatan anak muda atau Gen Z di sektor pertanian di wilayah Maluku Utara sangat minim, bahkan hanya mencapai angka 3,06%. Padahal, jika dilihat dari perspektif kelayakan ekonomi, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk membawa progres dan mampu menghasilkan surplus yang tinggi. Sayangnya, peran aktif generasi muda dalam sektor ini kini hampir tidak terlihat.
Pertanian di Maluku Utara semakin tidak diminati oleh Gen Z. Berdasarkan berbagai laporan dan data terbaru periode 2024 - 2026, sektor pertanian di daerah ini menghadapi tantangan yang cukup signifikan sehingga menghambat perkembangannya. Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan menurunnya minat generasi Z terhadap sektor pertanian.
Pertama, keterbatasan permodalan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Akses terhadap modal usaha yang terbatas serta kurangnya peningkatan kapasitas SDM membuat sektor pertanian dianggap tidak menjanjikan bagi generasi muda. Akibatnya, Gen Z tidak lagi menjadikan pertanian sebagai pilihan utama dalam mencari sumber kehidupan dan tidak lagi bergantung pada pertanian
Kedua, infrastruktur yang belum memadai. Kurangnya fasilitas irigasi atau sumber air, terutama untuk pertanian hortikultura di beberapa wilayah Maluku Utara, menjadi kendala serius. Selain itu, infrastruktur logistik yang belum memadai juga menyulitkan proses mobilitas dan pendistribusian hasil pertanian. Kondisi ini berdampak pada rendahnya ketahanan pangan di daerah yang berada di Maluku Utara.
Selain itu, alih fungsi lahan dan konflik agraria turut memperparah keadaan. Lahan pertanian semakin terdesak oleh keberadaan industri ekstraktif seperti pertambangan serta kebutuhan permukiman. Hal ini tidak hanya mengurangi luas lahan produktif, tetapi juga memicu konflik agraria. Akibatnya, banyak generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor pertambangan karena dianggap memberikan laba yang besar dan cepat. Sementara itu, pertanian sering dipandang sebagai pekerjaan yang kotor dan kurang menguntungkan.
Padahal, anggapan tersebut sangat merugikan diri mereka sendiri.karna Pertanian tidak akan pernah mengalami kemacetan dalam beroperasi di bidang manapun selama makhluk hidup di dunia ini masih membutuhkan makanan dan minuman. Sebaliknya, sektor pertambangan suatu saat akan berhenti ketika sumber daya alam telah terkuras habis. Jika hal itu terjadi, maka sektor pertambangan akan musnah atau ditutup.
Sesungguhnya, sektor pertanian mampu memberikan surplus atau keuntungan yang besar apabila dikelola sesuai dengan prosedur dan manajemen yang baik. Baik itu komoditas tanaman perkebunan (tahunan) maupun tanaman pangan (bulanan), semuanya memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan jika dikembangkan secara optimal.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bahwa “hidup dan matinya suatu bangsa sangat bergantung pada hasil pertanian yang ada.” Kutipan ini menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan fondasi utama keberlangsungan suatu bangsa, sehingga sudah seharusnya mendapat perhatian dan dukungan serius, terutama dari generasi muda. Agar rantai makanan tidak pernah putus dan ketahanan pangan berlangsung terus-menerus.
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

