SIKKA, [30 Januari 2026] – Memasuki hari keenam, pencarian Anwar Mahmud dan Norisius Sapa kini bukan lagi sekadar soal musibah laut, melainkan potret nyata kebiadaban birokrasi dan bukti betapa Bupati Sikka secara sadar membiarkan warganya terlantar menjemput maut di ganasnya perairan Pantai Selatan.
Di saat keluarga korban meratap di bibir pantai, Pemerintah Kabupaten Sikka justru menunjukkan sikap masa bodoh yang keterlaluan. Kehadiran pejabat di lokasi hanya dianggap sebagai sandiwara murahan dan "pemanis kamera" demi konten pencitraan, sementara di lapangan, nyawa manusia dianggap lebih murah dari harga sebuah solar kapal.
Sikap "Bajingan": Rakyat Sendiri Dikasih Perahu Karet, Turis Asing Dijemput Teknologi Canggih!
Kemarahan masyarakat Desa Paga meledak saat membandingkan operasi SAR di Sikka dengan perlakuan istimewa negara terhadap warga asing di Labuan Bajo. Masyarakat menilai ada diskriminasi kemanusiaan yang sangat kotor.
"Ini benar-benar tindakan bajingan! Kalau yang hilang turis asing di Labuan Bajo, negara langsung sigap. Helikopter diterbangkan, drone termal dikerahkan, kapal KN SAR Puntadewa yang canggih itu muncul dalam sekejap. Tapi untuk nelayan kami di Paga? Pemda Sikka hanya kirim perahu karet (rubber boat) yang nampak seperti mainan anak-anak di tengah gelombang pantai selatan. Ini penghinaan terhadap nyawa manusia!" teriak Saudara Ikel, perwakilan warga dengan nada penuh amarah.
Bupati Sikka Menelantarkan Rakyatnya sendiri
Masyarakat menuding Bupati Sikka telah gagal total dalam menjalankan mandat perlindungan rakyat. Mengirim tim dengan peralatan minimalis di tengah cuaca ekstrem sama saja dengan mengirim mereka untuk menyerah. Rakyat tidak butuh Bupati yang hanya pintar berdiskusi atau membangun argumen koordinasi di atas kertas.
"Kami butuh solusi teknis, bukan omong kosong koordinasi! Bupati punya otoritas untuk mendesak pusat, meminjam helikopter, atau mengerahkan segala kekuatan anggaran darurat. Tapi apa yang terjadi? Enam hari berlalu, dan mereka masih saja bangga dengan perahu karet itu. Ini adalah bentuk penelantaran warga negara secara sengaja!" tegas warga lainnya.
Visi Kemanusiaan yang Mati di Tangan Penguasa
Hingga hari ini, tangisan anak-anak korban yang menanti kepulangan ayah mereka seolah tak terdengar hingga ke kursi empuk kantor Bupati. Publik kini mempertanyakan: Untuk apa ada pemerintah jika dalam kondisi darurat seperti ini, rakyat kecil dibiarkan bertarung sendirian melawan maut dengan fasilitas seadanya?
Jika dalam waktu 1x24 jam ke depan tetap tidak ada pengerahan helikopter dan penambahan armada laut yang mumpuni, masyarakat Paga mengancam akan melakukan aksi lebih besar. Mereka menegaskan bahwa negara telah melakukan "dosa besar" karena telah membedakan derajat nyawa rakyat kecil dengan kepentingan lainnya.
Tuntutan Keras Masyarakat Paga:
1. Bupati Sikka Berhenti Bersembunyi: Jangan hanya kirim wakil untuk foto-foto, segera ambil tindakan teknis kerahkan armada tambahan dan helikopter!
2. Hentikan Diskriminasi Fasilitas: Nyawa nelayan Paga sama berharganya dengan nyawa turis asing. Kerahkan drone termal dan kapal besar sekarang juga!
3. Masyarakat Mengutuk Kelambanan Pemda: Ketiadaan alat canggih hingga hari keenam adalah bukti nyata bahwa Pemkab Sikka telah menelantarkan dan membiarkan warganya mati di laut lepas.
Negara yang gagal menyelamatkan satu nyawa rakyatnya sendiri karena alasan birokrasi adalah negara yang kehilangan kehormatannya. Bupati Sikka, jangan biarkan sejarah mencatat Anda sebagai pemimpin yang "buta dan tuli" saat rakyatnya tenggelam. (Markus)
#PrayForPaga #SikkaBerduka #SaveNelayanPaga #BasarnasSikka #PemkabSikka #Kemanusiaan #GubernurNTT #KeadilanUntukNelayan #BupatiSikkaGagal
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

