Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

JERITAN CINTA DARI INAMOSOL: 80 TAHUN MERDEKA, JALAN KAMI MASIH LUKA

Seram Bagian Barat, 14 Februari 2026 — Di saat sebagian besar negeri merayakan Hari Kasih Sayang dengan bunga dan janji manis, dari pedalaman Pulau Seram terdengar jeritan berbeda. Bukan tentang asmara, melainkan tentang cinta yang sunyi, cinta pada tanah kelahiran yang terasa ditinggalkan.

Tokoh masyarakat Kecamatan Inamosol, Gerard Wakanno, menyuarakan kegelisahan warganya yang selama ini terpendam. Di wilayah yang masuk administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) itu, kemerdekaan yang telah berusia 80 tahun belum sepenuhnya terasa.

“Ini bukan sekadar keluhan. Ini jeritan hati dari masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan luka bernama infrastruktur,” tegas Gerard, Sabtu (14/2/2026).

Jalan yang Bukan Lagi Rusak, Tapi Menganga

Di Inamosol, jalan bukan sekadar rusak—ia adalah jurang menganga yang membelah bumi sekaligus harapan. Kendaraan biasa nyaris mustahil melintas. Hanya mobil 4x4 dengan biaya sewa selangit yang berani menantang lumpur dan batuan tajam.

Setiap musim hujan datang, kecemasan menjadi rutinitas. Derasnya air tak lagi sekadar menyirami kebun, melainkan mengancam keselamatan jiwa. Video kendaraan hanyut yang viral di media sosial bukanlah sensasi bagi warga. Itu adalah realitas harian.

Ironi kian terasa ketika hingga setahun pasca pelantikan, Bupati SBB disebut belum pernah menginjakkan kaki di Inamosol. Bagi warga, ini bukan soal seremonial, melainkan simbol keberpihakan. “Jika pemimpin tak hadir, bagaimana pembangunan bisa datang?” ujar Gerard lirih.

Surga yang Terisolasi

Inamosol bukan tanah tandus. Hutan dan kebunnya menyimpan damar, cengkeh, dan pala—komoditas bernilai tinggi yang sejak lama menjadi denyut perdagangan Nusantara. Tanahnya subur, hasil buminya melimpah.

Namun apa daya, jalan yang hancur membuat ongkos angkut lebih mahal daripada nilai barang itu sendiri. Sembilan dari sepuluh muatan, biaya transportasi menggerus seluruh keuntungan. Banyak hasil panen terpaksa dijual murah kepada tengkulak, bahkan membusuk di pinggir jalan.

“Ini bukan sekadar persoalan ekonomi. Ini penghukuman bagi masyarakat yang ingin maju,” tegas Gerard.

Padahal jika akses memadai, potensi Inamosol diyakini mampu menyumbang miliaran rupiah bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan.

Menagih Keadilan Sosial

Di tengah gemuruh pembangunan nasional dan modernisasi yang melesat, warga Inamosol hanya meminta satu hal: perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah.

Mereka tak meminta jalan berlapis emas, tak pula istana megah. Yang mereka tuntut adalah jalan layak jalan yang menghubungkan anak-anak ke sekolah dengan aman, petani ke pasar dengan harga adil, dan masyarakat ke layanan kesehatan tanpa taruhan nyawa.

“Jangan biarkan Pulau Seram menjadi museum keterisolasian di era kemajuan,” seru Gerard.

Di usia 80 tahun kemerdekaan Indonesia, warga Inamosol merasa belum sepenuhnya menikmati makna merdeka. Mereka adalah bagian sah dari republik ini, pemilik kedaulatan yang sama.

Dari balik pegunungan Seram, suara itu kini tak lagi berbisik. Ia berubah menjadi teriakan penuh harap:

Lihatlah kami. Sentuhlah kami. Bangunlah bersama kami.

Inamosol menanti. Seram menanti. Dan sejarah akan mencatat, apakah jeritan cinta dari tanah sunyi ini akhirnya didengar atau kembali tenggelam dalam sepi. (AL) 

Iklan tengah post Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Iklan Natal
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama