Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

Tahun Baru: Merebut Kembali Ruang Waktu yang Manusiawi

Malam ini, saat jarum jam menyentuh angka dua belas dan kembang api memecah langit, jutaan orang akan melakukan ritual yang sama: merayakan pergantian angka. Kita menyebutnya Tahun Baru. Namun, di balik sorak-sorai itu, terselip sebuah kecemasan kolektif yang jarang kita bicarakan. Kita seolah-olah sedang dipaksa masuk ke sebuah gerbang perlombaan baru, di mana waktu adalah wasit yang kejam dan kalender adalah cambuknya.

Pertanyaannya, sejak kapan waktu menjadi begitu memburu? Dan di manakah kita menyisakan ruang bagi diri kita untuk sekadar menjadi manusia?

### Penjara Angka dan Efisiensi

Kita hidup di era di mana waktu telah "didigitalisasi" sepenuhnya. Waktu bukan lagi tentang pergantian musim atau pergerakan matahari, melainkan tentang deadline, metrik, dan algoritma. Kita dipaksa untuk percaya bahwa setiap detik yang tidak menghasilkan sesuatu yang produktif adalah detik yang terbuang.

Inilah yang saya sebut sebagai hilangnya "ruang waktu manusiawi". Kita telah mereduksi eksistensi kita menjadi sekadar deret angka di aplikasi pengelola tugas. Tahun baru, dalam konteks ini, sering kali bukan menjadi momen refleksi yang jernih, melainkan beban tambahan. "Tahun lalu saya gagal mencapai target A, maka tahun ini saya harus berlari dua kali lebih cepat," begitu bisikan dalam kepala kita.


Kita lupa bahwa manusia bukanlah mesin. Mesin bekerja berdasarkan input dan output yang stabil. Manusia? Manusia memiliki ritme yang rapuh; kita butuh jeda, kita bisa patah hati, kita bisa merasa lelah yang luar biasa, dan kita butuh waktu untuk tidak melakukan apa-apa agar bisa memahami siapa diri kita sebenarnya.

### Menghuni Waktu, Bukan Menghitungnya

Ada perbedaan mendasar antara "menghitung waktu" dan "menghuni waktu". Menghitung waktu adalah tentang kuantitas seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa besar saldo rekening bertambah, atau seberapa cepat kita naik jabatan. Sedangkan menghuni waktu adalah tentang kualitas kehadiran.

Ruang waktu yang manusiawi adalah sebuah dimensi di mana kita tidak merasa bersalah saat duduk diam memandang hujan, atau saat menghabiskan waktu berjam-jam berbicara dengan orang terkasih tanpa sekali pun melirik ponsel. Di dalam ruang ini, waktu terasa meluas, bukan menyempit.

Sayangnya, dunia modern sangat memusuhi konsep ini. Kita dianggap malas jika tidak sibuk. Kita dianggap tertinggal jika tidak ikut dalam kegaduhan "akselerasi". Padahal, banyak hal besar dalam sejarah manusia lahir bukan dari ketergesaan, melainkan dari kontemplasi yang dalam sebuah kemewahan yang kini semakin sulit kita temukan.

### Resolusi yang Memanusiakan

Jika Anda sedang menulis resolusi untuk tahun depan, cobalah tengok kembali daftar tersebut. Apakah daftar itu berisi tuntutan yang membuat Anda merasa seperti perangkat lunak yang butuh upgrade besar-besaran? Ataukah daftar itu memberi ruang bagi pertumbuhan organik jiwa Anda?

Resolusi yang manusiawi tidak melulu soal "menjadi lebih baik" dalam standar sukses materialistik. Mungkin, resolusi yang paling radikal saat ini adalah berani berkata "tidak" pada tuntutan kecepatan yang tidak masuk akal. Berani mengambil jeda di tengah kebisingan. Berani untuk tidak selalu "tersambung" secara digital agar bisa kembali "terhubung" secara emosional dengan realitas.

### Menjemput Jeda

Tahun baru seharusnya menjadi sebuah koma, bukan sekadar tanda start bagi lari maraton yang tak ada ujungnya. Ia adalah ruang transisi untuk mengevaluasi bukan hanya apa yang telah kita "lakukan", tapi siapa kita "saat ini".

Mari kita jadikan tahun yang baru ini sebagai momentum untuk merebut kembali waktu kita. Mari kita ciptakan ruang-ruang waktu yang lebih manusiawi di sela-sela kesibukan kita. Ruang di mana kita diizinkan untuk gagal, diizinkan untuk melambat, dan diizinkan untuk menikmati hidup tanpa perlu memamerkannya di media sosial.

Sebab pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa cepat kita sampai di garis finis—karena garis finis kita semua sama: kefanaan. Hidup adalah tentang bagaimana kita menghargai setiap jengkal ruang dan detik waktu yang kita lalui dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah manusia, bukan sekadar angka dalam statistik produktivitas.

Selamat merayakan waktu. Selamat menjadi manusia yang utuh di tahun yang baru.

Iklan Natal Baca Juga
Iklan Natal
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama