Semangat itulah yang dibawa Briptu Olizhia J. Mairuhu, S.Si.Teol, bersama 14 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Universitas Pattimura (Unpatti), ketika menghadirkan Kelas Inspirasi dan Motivasi bagi siswa SD Negeri 12 Namrole, Kilometer 7 Dusun Waenewen, Desa Labuang, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 11.00 hingga 13.00 WIT tersebut bukan sekadar kegiatan belajar di luar kelas. Lebih dari itu, kelas inspirasi menjadi ruang bagi para siswa untuk mengenal arti sebuah cita-cita, keberanian bermimpi, kedisiplinan, tanggung jawab serta pentingnya pendidikan dalam membentuk masa depan.
Briptu Jane Mairuhu tampil sebagai fasilitator sekaligus narasumber utama. Dengan pengalaman sebagai seorang anggota kepolisian, pendidik, youth advocate dan pemerhati anak, Jane membawa pengalaman nyata ke hadapan para siswa.
Di hadapan anak-anak, Jane tidak hanya berbicara tentang profesi dan keberhasilan. Ia mengajak para siswa memahami bahwa setiap keberhasilan selalu dimulai dari keberanian untuk bermimpi dan kemauan untuk terus belajar.“Jangan takut untuk mempunyai cita-cita yang besar. Kalian boleh bermimpi menjadi apa saja. Tetapi untuk mewujudkan mimpi itu, kalian harus mau belajar, disiplin, bekerja keras dan tidak mudah menyerah,” pesan Jane kepada para siswa.
Menurutnya, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi bagi seorang anak selama dibarengi dengan kemauan untuk belajar dan berusaha.
“Hari ini kalian masih duduk di bangku sekolah dasar. Tetapi jangan berpikir bahwa kalian tidak bisa melakukan sesuatu yang besar. Dari tempat sederhana ini, dari sekolah ini, bisa lahir guru, dokter, polisi, tentara, pengusaha, pemimpin dan orang-orang hebat lainnya,” tuturnya.
Jane juga mengajak para siswa memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci penting untuk membuka kesempatan dalam kehidupan.
Baginya, sekolah bukan hanya tempat mendapatkan nilai, tetapi juga tempat membangun karakter dan menemukan potensi diri.
“Pendidikan membuka peluang. Pengetahuan memberi kita kekuatan. Tetapi karakter, keberanian dan kepedulian akan menentukan bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.AJAK ANAK BERANI BERMIMPI
Dalam kelas inspirasi tersebut, para siswa diajak mengenal berbagai macam cita-cita dan profesi. Mereka diberikan ruang untuk menyampaikan impian masing-masing serta berani berbicara di hadapan teman-temannya.
Suasana kegiatan pun berlangsung penuh interaksi. Para siswa terlihat antusias mengikuti materi, menjawab pertanyaan, bertanya kepada fasilitator serta menyampaikan cita-cita mereka.
Jane menekankan bahwa rasa percaya diri merupakan salah satu modal penting bagi anak-anak untuk berkembang.
“Jangan takut salah ketika berbicara. Jangan takut bertanya. Jangan malu menyampaikan pendapat. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Yang penting adalah kalian berani mencoba dan terus memperbaiki diri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan kondisi keluarga maupun lingkungan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
“Keadaan hari ini tidak menentukan siapa kalian di masa depan. Apa yang kalian lakukan hari ini, bagaimana kalian belajar, bagaimana kalian menghormati orang tua dan guru, serta bagaimana kalian memperlakukan orang lain, itulah yang perlahan membentuk masa depan kalian,” kata Jane.
DISIPLIN DAN TANGGUNG JAWAB
Selain berbicara tentang cita-cita, kelas inspirasi juga menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab.
Para siswa diajak memahami bahwa menjadi orang hebat bukan hanya karena memiliki kecerdasan, tetapi juga karena mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah dan lingkungan.
Kedisiplinan, kata Jane, harus dibangun sejak usia dini melalui hal-hal sederhana.
Datang tepat waktu ke sekolah, mengikuti pelajaran dengan baik, menghormati guru, mengerjakan tugas, menjaga kebersihan, mematuhi aturan dan membantu orang tua merupakan bagian dari proses membangun karakter.“Kalau sejak kecil kita belajar disiplin terhadap hal-hal kecil, maka ketika mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar, kita akan lebih siap. Kesuksesan tidak dibangun dalam satu hari. Kesuksesan dibangun dari kebiasaan baik yang dilakukan terus-menerus,” ungkapnya.
POLISI, PENDIDIK DAN PEMBELA ANAK
Sosok Briptu Olizhia Jane Mairuhu menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam kelas inspirasi tersebut.
Selain menjalankan tugas sebagai anggota Polri, Jane juga dikenal aktif dalam kegiatan edukasi dan sosial yang berkaitan dengan anak dan generasi muda.
Ia merupakan lulusan Sarjana Sains Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) dan memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan akademik, organisasi, kepemudaan serta public speaking.
Dalam perjalanan pendidikannya, Jane tercatat pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional, seleksi pertukaran pelajar Jepang-Indonesia, menjadi Duta Belia Indonesia di Australia, mengikuti Indonesia-China Youth Exchange Programme, serta meraih berbagai prestasi di bidang public speaking dan kegiatan kepemudaan.
Di bidang organisasi, ia juga memiliki pengalaman sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas UKIM, Sekretaris Umum Senat Mahasiswa UKIM, Ketua Relawan Pengajar Anak Jalanan Kota Ambon serta aktif dalam komunitas pemerhati anak.
Pengalaman tersebut menjadi bekal yang kemudian ia bawa dalam berbagai kegiatan edukasi kepada generasi muda.
Jane juga tergabung dalam Komunitas Pemerhati Anafina, kelompok pemerhati sosial yang aktif memberikan edukasi kepada anak-anak di Kabupaten Buru Selatan, khususnya berkaitan dengan perlindungan anak, pencegahan perundungan atau bullying serta pencegahan kekerasan seksual.
Karena itu, pesan yang disampaikan Jane kepada siswa SD Negeri 12 Namrole tidak berhenti pada persoalan prestasi akademik.
Ia juga mengajak anak-anak untuk berani mengatakan tidak terhadap kekerasan, berani berbicara ketika mengalami atau melihat tindakan yang salah, serta saling menjaga dan menghormati sesama.
“Anak-anak harus tahu bahwa mereka berharga. Mereka berhak mendapatkan pendidikan, rasa aman, kasih sayang dan perlindungan. Karena itu, jangan takut berbicara kepada orang tua, guru atau orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami sesuatu yang membuat kalian tidak nyaman atau merasa terancam,” tegasnya.
“REAL EXPERIENCES, TRUE LESSONS, BRIGHTER FUTURES”
Dalam kelas inspirasi tersebut, Jane membawa sebuah pesan yang menjadi semangat utama kegiatannya, yakni “Police Officer, Educator, Youth Advocate – Real Experiences, True Lessons, Brighter Futures.”
Pesan tersebut menggambarkan bagaimana pengalaman hidup dan perjalanan pendidikan dapat menjadi pelajaran nyata untuk membuka masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda.
Jane mengajak para siswa untuk tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga menjadi anak yang berani, peduli dan memiliki karakter.
“Kita ingin anak-anak bukan hanya mengejar nilai. Kita ingin mereka memiliki mimpi, keberanian, kepedulian dan keyakinan bahwa mereka mampu menjadi sesuatu yang besar di masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan seorang anak tidak dapat diukur hanya dari prestasi akademik.
Keberanian berbicara, kemampuan menghargai orang lain, kepedulian terhadap lingkungan, kedisiplinan serta kemampuan bangkit ketika menghadapi kegagalan juga merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
KOLABORASI MAHASISWA KKN
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh kelompok mahasiswa KKN Program RPL Universitas Pattimura Desa Labuang, Kecamatan Namrole.
Sebanyak 14 mahasiswa terlibat dalam kegiatan tersebut di bawah koordinasi Ketua KKN Sulce Seleky dan Sekretaris Amelia Wanci.
Kolaborasi mahasiswa KKN dengan Briptu Jane Mairuhu menunjukkan bahwa proses pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah.
Mahasiswa, aparat kepolisian, pemerintah desa, orang tua dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk mengambil bagian dalam membangun generasi muda.
Kegiatan tersebut juga dihadiri perangkat Pemerintah Desa Labuang serta Bhabinkamtibmas Desa Labuang, Bripka Roland Resimaran dan Kepala Sekolah SD Negeri 12 Namrole, Junlisbeth Huwae.
Kehadiran unsur kepolisian dan mahasiswa dalam kegiatan pendidikan tersebut memberikan pesan bahwa pendekatan terhadap anak tidak selalu harus dilakukan melalui aturan dan penindakan, tetapi juga melalui keteladanan, dialog, edukasi dan pemberian motivasi.
MENANAM MIMPI DARI KAMPUNG
Kelas Inspirasi di SD Negeri 12 Namrole menjadi gambaran bahwa perubahan besar dapat dimulai dari ruang yang sederhana.
Di sebuah sekolah yang berada di Kilometer 7 Dusun Waenewen, Desa Labuang, para siswa mendapatkan kesempatan mendengar langsung cerita, pengalaman dan motivasi dari seorang polisi perempuan yang memiliki perjalanan akademik, organisasi dan sosial yang cukup beragam.
Bagi Jane, kesempatan bertemu anak-anak bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi tentang menanamkan sebuah keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi, setiap anak memiliki hak untuk bermimpi dan setiap mimpi membutuhkan keberanian, pendidikan dan kerja keras untuk diwujudkan.
“Mimpi besar tidak harus dimulai dari tempat yang besar. Mimpi besar bisa dimulai dari sebuah kelas sederhana, dari sebuah buku, dari seorang guru, dari orang tua yang terus memberi semangat, dan dari seorang anak yang berkata: saya mau belajar dan saya tidak mau menyerah,” tutur Jane.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak anak di Buru Selatan yang mendapatkan ruang untuk mengenal potensi dirinya.
“Kalau kita ingin melihat Buru Selatan memiliki generasi yang hebat, maka kita harus mulai menanamkan nilai-nilai itu sejak sekarang. Anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin daerah, profesional, pelayan masyarakat dan orang-orang yang membawa perubahan,” pungkasnya.
Kegiatan Kelas Inspirasi dan Motivasi kemudian ditutup dengan interaksi bersama para siswa. Antusiasme anak-anak sepanjang kegiatan menjadi gambaran bahwa ruang untuk didengar, diberi motivasi dan diajak bermimpi sangat berarti bagi mereka.
Dari SD Negeri 12 Namrole, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: masa depan tidak datang begitu saja. Masa depan dibentuk dari mimpi yang berani, pendidikan yang sungguh-sungguh, karakter yang kuat, kepedulian terhadap sesama dan keberanian untuk terus melangkah.
Dan hari itu, di tengah ruang kelas sederhana di Dusun Waenewen, benih-benih mimpi itu kembali ditanam. (Al/As)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |




