Diskusi Serial Hadianto Rasyid Edisi-12
Ada yang menarik dari ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Sulawesi yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri bersama Kompas.com di Kendari, 29 Mei 2026. Di tengah kompetisi antardaerah yang semakin ketat, Kota Palu justru muncul sebagai salah satu kota dengan capaian paling menonjol di kawasan Sulawesi.
Kegiatan yang digagas Kemendagri ini bukan sekadar seremoni penghargaan tahunan. Forum tersebut dirancang sebagai ruang evaluasi sekaligus pertukaran praktik baik antar-pemerintah daerah di kawasan Sulawesi. Penilaiannya pun berbasis indikator kinerja yang cukup strategis, mulai dari pengendalian inflasi, penurunan angka pengangguran, penanggulangan kemiskinan dan stunting, hingga inovasi pembiayaan daerah melalui creative financing.
Menariknya lagi, apresiasi ini melibatkan proses penilaian yang mengombinasikan data kinerja pemerintah daerah dengan pendalaman terhadap inovasi kebijakan dan efektivitas implementasi program di lapangan. Karena itu, daerah yang masuk kategori terbaik bukan hanya dinilai dari kemampuan administratif, tetapi juga dari kapasitas kepemimpinan dan keberhasilan menerjemahkan kebijakan menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
Kota Palu meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Peringkat ke-2 kategori Creative Financing tingkat Kota se-Sulawesi, dan Peringkat ke-3 kategori Pengendalian Inflasi tingkat Kota se-Sulawesi.
Bagi sebagian orang, penghargaan hanyalah seremoni. Tetapi dalam tata kelola pemerintahan modern, penghargaan berbasis indikator nasional sesungguhnya adalah refleksi atas kapasitas manajemen pemerintahan, arah kebijakan fiskal, kemampuan menjaga stabilitas ekonomi daerah, serta keberanian menghadirkan inovasi.
Karena itu, capaian Kota Palu kali ini bukan sekadar prestasi administratif. Ia adalah pengakuan bahwa Kota Palu sedang bergerak dalam jalur pembangunan yang lebih terukur.
Penghargaan kategori pengendalian inflasi misalnya, bukan perkara sederhana. Inflasi daerah sangat berkaitan dengan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, kelancaran distribusi barang, kekuatan koordinasi antar-instansi, hingga efektivitas intervensi pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Palu memang terlihat semakin aktif membangun pola pengendalian inflasi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif. Pasar murah, penguatan distribusi pangan, koordinasi lintas sektor, hingga pemanfaatan forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mulai tampak bekerja lebih sistematis.
Di tengah tekanan ekonomi nasional dan global yang tidak selalu stabil, kemampuan sebuah daerah menjaga inflasi tetap terkendali adalah indikator penting dari kualitas kepemimpinan daerah.
Sementara penghargaan 'Creative Financing' justru memperlihatkan sisi lain dari arah pemerintahan Kota Palu hari ini, yakni keberanian mencari jalan pembiayaan pembangunan yang lebih kreatif.
Di banyak daerah, keterbatasan fiskal sering dijadikan alasan stagnasi pembangunan. Tetapi Kota Palu tampaknya mencoba keluar dari pola lama tersebut. Pemerintah kota mulai membaca bahwa pembangunan modern tidak bisa hanya bergantung pada APBD konvensional.
Creative financing pada dasarnya berbicara tentang kemampuan daerah membangun inovasi pembiayaan, memperkuat tata kelola keuangan, meningkatkan efektivitas anggaran, membuka ruang kolaborasi, dan menghadirkan strategi fiskal yang lebih progresif. Itu sebabnya kategori ini menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian Kemendagri di ajang bergengsi tahun ini.
Dalam konteks Kota Palu, penghargaan ini terasa relevan jika melihat berbagai proyek percepatan pembangunan kota beberapa tahun terakhir, yakni penataan kawasan perkotaan, pembangunan ruang publik, revitalisasi infrastruktur kota, hingga keberanian mempercepat wajah baru Palu pascabencana.
Tentu tidak semua orang puas. Kritik terhadap Pemerintah Kota Palu tetap ada dan itu menyehatkan iklim demokrasi. Namun di luar perdebatan politik sehari-hari, data dan indikator nasional tetap harus diakui sebagai parameter objektif.
Dan ketika Kota Palu mampu masuk jajaran terbaik Sulawesi pada dua kategori strategis sekaligus, maka publik pun jujur mengakui bahwa ada kerja pemerintahan yang sedang berjalan efektif.
Di titik inilah kepemimpinan Wali Kota Hadianto Rasyid menemukan konteksnya. Gaya manajemen nya yang cepat, agresif, dan terkadang kontroversial, perlahan mulai menghasilkan pengakuan berbasis capaian. Tidak semua kebijakan populer. Tidak semua langkah nyaman bagi semua pihak. Tetapi ada orientasi hasil yang mulai terlihat.
Kota Palu hari ini memang belum selesai. Masih banyak pekerjaan rumah: kemiskinan, pengangguran, kualitas pelayanan publik, hingga ketimpangan ekonomi warga kota. Namun penghargaan ini memberi sinyal bahwa arah dasarnya terbaca.
Bahwa Kota Palu tidak lagi sekadar bertahan sebagai kota pascabencana, tetapi mulai bergerak menjadi kota yang ingin kompetitif di level regional.
Dan mungkin, di situlah letak makna terpenting dari dua penghargaan ini. Bukan semata trofi. Tetapi legitimasi bahwa Kota Palu mulai diperhitungkan.
Palu, 29 Mei 2026
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |



