Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

Ziarah Panjang Menembus Pegunungan Buru, Jemaat GPM Nafrua Resmi Dimekarkan dan Dilembagakan

Namrole – Dari jantung Kota Namrole, Sabtu pagi, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT, sebuah perjalanan panjang dimulai. Rombongan pelayanan bergerak menembus jalan berdebu, menyusuri jalur terjal dan berliku yang seakan membelah waktu menuju kawasan pegunungan Pulau Buru. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, rombongan akhirnya tiba di Nafrua sekitar pukul 13.20 WIT.

Perjalanan menuju wilayah pedalaman itu bukan sekadar menempuh jarak, tetapi menjadi kisah perjuangan yang penuh makna. Debu beterbangan di bawah terik matahari siang, sementara dalam perjalanan pulang hujan deras mengguyur jalur yang sama. Di kiri dan kanan jalan, hamparan pohon minyak kayu putih berdiri kokoh bagai lukisan alam ciptaan Tuhan. Suara riuh riang-riang bersahut-sahutan, mengiringi langkah rombongan yang harus berjibaku melewati medan ekstrem, sungai yang menghadang, serta tanjakan yang menuntut kesabaran.

Namun segala lelah seakan terbayar lunas ketika rombongan tiba di Nafrua. Di tengah pelukan alam kaku (Gunung) Bipolo yang hijau dan asri, umat menyambut dengan penuh sukacita. Tabuhan tifa menggema memecah keheningan pegunungan, disertai tarian adat Buru yang dibawakan dengan semangat dan kebanggaan.

Kehangatan penyambutan semakin terasa ketika Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu, bersama Ketua Klasis GPM Buru Selatan Pendeta Wendhel F. Lesbassa dan Sekretaris Klasis Pendeta Sammy M. Redjo. Tradisi adat tersebut menjadi simbol penghormatan, persaudaraan, dan penerimaan tulus dari masyarakat Nafrua kepada para tamu pelayanan.

Momentum bersejarah itu berlanjut pada Minggu, 26 April 2026, melalui rangkaian ibadah pemekaran dan pelembagaan Jemaat GPM Nafrua. Ibadah pemekaran dilaksanakan di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang dan dipimpin oleh Pendeta Glen Huwae. Dalam suasana penuh khidmat, akta pemekaran diserahkan oleh MPH Sinode GPM, menandai dimulainya babak baru perjalanan iman umat di Nafrua.

Usai ibadah, para pelayan dan umat kemudian berjalan bersama menuju Jemaat GPM Nafrua. Langkah demi langkah yang ditempuh bersama seakan merajut pesan bahwa perjalanan iman tidak pernah dijalani sendiri, melainkan dalam kebersamaan yang saling menopang dan menguatkan.

Ibadah pelembagaan Jemaat GPM Nafrua dipimpin langsung oleh Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu. Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa kehadiran gereja harus nyata dan memberi dampak dalam kehidupan umat.

“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegas Rikumahu.

Menurutnya, gereja harus menjadi rumah pengharapan, tempat di mana umat menemukan penguatan, solusi, dan kasih di tengah berbagai tantangan kehidupan.

Pada kesempatan itu, dilakukan pula peneguhan Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil Jemris Latuwael, oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis GPM Buru Selatan kepada Klasis GPM Buru Utara, yang diterima oleh Ketua Klasis GPM Buru Utara, Pendeta Herfin Yandres Siahaya.

Prosesi tersebut menandai peralihan tanggung jawab pelayanan dalam satu kesatuan tubuh gereja, sekaligus membuka lembaran baru bagi pertumbuhan pelayanan di wilayah pegunungan Buru.

Dalam sambutannya, Pendeta Wendhel F. Lesbassa menegaskan bahwa pelembagaan Jemaat GPM Nafrua merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM Tahun 2025. Ia menyampaikan rasa syukur mendalam dalam bahasa daerah, sebelum mengungkapkan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras mengawal proses panjang ini.

Lesbassa secara khusus menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, serta Jemaat GPM Batu Karang yang sejak awal setia menopang pelayanan di Nafrua.

Ia mengenang perjalanan pelayanan yang dimulai sejak Pekabaran Injil tahun 2019, diawali dengan baptisan terhadap 36 orang percaya. Dari titik awal itu, pelayanan terus berkembang dari Pos PI, meningkat menjadi Sektor PI, hingga kini resmi dilembagakan sebagai jemaat mandiri.

Sementara itu, Wakil Ketua I MPH Sinode GPM Pendeta Riko Rikumahu dalam arahannya mengingatkan bahwa tugas pelayanan tidak berhenti pada seremoni pelembagaan semata, tetapi harus diteruskan melalui kerja nyata dan kedekatan dengan umat.

“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, berjumpa dengan mereka, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” pesannya.

Seluruh rangkaian kegiatan ini bermuara pada satu pemahaman bersama bahwa Nafrua tidak lahir secara tiba-tiba. Jemaat ini tumbuh dari proses panjang, dari kesetiaan merawat perjumpaan, dari pelayanan yang terus berjalan, serta dari iman yang tak pernah berhenti melangkah.

Kini, di tengah sejuknya pegunungan Pulau Buru, ziarah panjang itu menemukan bentuknya: Jemaat GPM Nafrua yang resmi berdiri sebagai persekutuan hidup, bertumbuh dalam iman, dan siap melangkah menuju masa depan pelayanan yang lebih kuat. (AL) 

Iklan tengah post Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama