![]() |
| Oleh: Ir. R. Haidar Alwi, MT Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB. |
Dalam catatan sejarah, Yesus hidup di wilayah Yudea di bawah kekuasaan Romawi dan dikenal membawa ajaran kasih serta pembaruan moral yang kuat. Namun ajaran tersebut justru memunculkan kegelisahan di kalangan otoritas saat itu. Ketegangan antara nilai yang dibawa dan kepentingan yang ingin dipertahankan akhirnya berujung pada penangkapan, pengadilan, hingga penjatuhan hukuman mati melalui penyaliban.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi masa lalu. Ia menjadi cermin bahwa dalam realitas kehidupan, kebenaran tidak selalu berjalan seiring dengan kekuasaan. Keputusan bisa saja tampak sah secara hukum, tetapi kehilangan ruh keadilan. Dari titik inilah sejarah tidak hanya memberi cerita, tetapi juga peringatan.
Pengorbanan yang Mengubah Cara Manusia Memaknai Nilai.
Di balik peristiwa tersebut, terdapat satu nilai yang melampaui zamannya, yakni pengorbanan. Dalam iman Kristen, wafatnya Yesus dipahami sebagai bentuk pengorbanan bagi keselamatan manusia. Namun lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa nilai besar selalu lahir dari keberanian untuk menanggung risiko.
Peradaban tidak dibangun dari kenyamanan, melainkan dari kesediaan untuk berkorban demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Setiap kemajuan, baik dalam kehidupan pribadi maupun bangsa, selalu memiliki jejak pengorbanan di dalamnya.
Di era modern, nilai ini sering kali tergeser oleh kepentingan jangka pendek. Keputusan diambil berdasarkan keuntungan sesaat, bukan pada prinsip yang berkelanjutan. Ketika pengorbanan kehilangan tempat, yang muncul bukan kemajuan, melainkan rapuhnya fondasi moral.
Jumat Agung mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam kemenangan, tetapi justru dalam keteguhan mempertahankan nilai, bahkan ketika harus menghadapi konsekuensi yang berat.
Keadilan dan Kemanusiaan di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan.
Sejarah wafatnya Yesus juga menghadirkan pelajaran tentang keadilan. Ia menunjukkan bahwa hukum dapat berjalan, tetapi tidak selalu menghadirkan keadilan yang sesungguhnya. Tekanan massa, kepentingan politik, dan stabilitas kekuasaan sering kali menjadi faktor penentu yang menggeser nilai kebenaran.
Realitas ini tidak berhenti di masa lalu. Dalam kehidupan modern, tantangan serupa masih terus terjadi. Sistem yang ada hanya akan berjalan dengan baik jika ditopang oleh integritas manusia di dalamnya.
Di sinilah kemanusiaan menjadi penentu. Ketika empati dan nurani tetap dijaga, maka keadilan memiliki peluang untuk hidup. Namun ketika kepentingan lebih dominan, keadilan mudah kehilangan maknanya.
Pelajaran ini menjadi relevan bagi kehidupan berbangsa, di mana setiap keputusan seharusnya tidak hanya berpijak pada aturan, tetapi juga pada nilai kemanusiaan yang mendasarinya.
Toleransi sebagai Jalan Menjaga Keutuhan Bangsa.
Indonesia berdiri di atas keberagaman yang tidak dapat dipisahkan dari identitasnya. Dalam konteks ini, peringatan Jumat Agung menjadi lebih dari sekadar peristiwa keagamaan, melainkan momentum untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya toleransi.
Toleransi bukan hanya tentang menghargai perbedaan secara simbolik, tetapi juga tentang menjaga ruang hidup bersama dengan sikap yang dewasa. Menghormati ibadah umat lain, menjaga ketenangan, serta tidak memaksakan keyakinan adalah bentuk nyata yang sederhana namun bermakna.
Keberagaman tidak pernah menjadi ancaman jika diiringi dengan kesadaran untuk saling menjaga. Justru dari perbedaan itulah lahir kekuatan yang membuat bangsa ini tetap utuh.
Jumat Agung, dengan segala maknanya, mengingatkan bahwa kemanusiaan selalu bisa menjadi titik temu di tengah perbedaan yang ada.
Wafatnya Yesus Kristus menghadirkan pelajaran yang melampaui batas keyakinan, yakni tentang pengorbanan, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai ini tidak pernah usang, justru semakin dibutuhkan di tengah kehidupan yang penuh kepentingan dan perbedaan.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari apa yang terlihat, tetapi dari seberapa kuat nilai yang dijaga di dalamnya. Ketika kemanusiaan tetap menjadi dasar, maka persatuan akan selalu menemukan jalannya.
Dalam semangat itulah, peringatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi seluruh elemen bangsa.
Dalam kesempatan ini, sebagai bagian dari komitmen untuk terus merawat nilai kebangsaan dan kemanusiaan, Keluarga Besar Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute menyampaikan penghormatan atas peringatan ini:
Selamat Memperingati Wafat Yesus Kristus 2026.
Semoga nilai pengorbanan, keadilan, dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan dalam setiap langkah kehidupan berbangsa.
(Nanang)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

