Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

Dari Busuk Hingga Keras, Menu MBG Dinilai Kian Ngawur

Tembilahan Hulu – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya terus berinovasi. Sayangnya, inovasi yang dimaksud bukan pada peningkatan kualitas gizi, melainkan variasi “kejutan” menu—dari yang sudah busuk hingga yang belum siap dimakan.


Di SDN 008 Tembilahan Hulu, Kelurahan Tembilahan Hulu, Kecamatan Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, para siswa kembali mendapat pengalaman unik dalam program ini. Jika sebelumnya sempat “diperkenalkan” dengan buah salak dalam kondisi busuk, kali ini giliran alpukat keras yang hadir sebagai menu pelengkap. Sebuah paket lengkap pembelajaran: mengenal buah dalam dua fase ekstrem—terlalu lama dan terlalu cepat.


Pada Sabtu (25/4/2026), sejumlah orang tua mulai angkat suara. Bukan tanpa alasan, anak-anak mereka pulang membawa alpukat yang lebih cocok disimpan di dapur beberapa hari ke depan daripada langsung disantap.


“Untuk apa diberikan kalau belum bisa dimakan? Apa disuruh menunggu matang dulu atau diperam?” ujar Ros, mencoba mencari logika di balik distribusi yang terasa seperti teka-teki.


Jika ditelaah lebih dalam, program ini seolah ingin mengajarkan konsep “gizi tertunda”—di mana makanan memang ada, tapi manfaatnya baru bisa dirasakan di masa depan, dengan catatan tidak keburu rusak seperti menu sebelumnya.


Menu hari itu sebenarnya terdengar cukup menjanjikan: jagung susu keju (jasuke), telur rebus, dan alpukat. Namun, kehadiran alpukat keras sukses menjadi bintang utama—bukan karena kandungan gizinya, melainkan karena ketidaksiapannya untuk dimakan.


Orang tua pun mulai mempertanyakan, apakah ada standar kualitas dalam pengelolaan dapur MBG, ataukah menu disiapkan dengan prinsip “yang penting ada bentuknya”.


Lebih jauh, mereka mengingatkan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan bagi-bagi makanan, melainkan program negara yang menggunakan anggaran publik. Artinya, kualitas seharusnya tidak ikut “ngawur” seperti kondisi buah yang dibagikan.


“Ini bukan sekali terjadi. Harapannya segera dibenahi, karena ini menyangkut kesehatan anak-anak dan menggunakan uang negara,” tegas Ros.


Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun penyedia makanan. Mungkin masih dalam proses evaluasi—atau sedang menunggu semuanya benar-benar “matang”. (OR-Rls)

Iklan tengah post Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama