JAKARTA- Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Mohan Roliskana bakal menerima trofi Abyakta - Anugerah Kebudayaan PWI Pusat pada puncak Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2026. Setelah berhasil mempertahankan proposalnya (9/1/2026) : “Gerbang Sangkareang” sebagai landmark budaya yang menyatukan tradisi Sasak dan arsitektur modern.
Mohan menjadi Wali Kota Mataram periode 2021-2024 dan 2024-2029. Lahir di Mataram, 16 November 1972. Menempuh Pendidikan SMA Ampenan, Mataram,1991; Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jurusan Ilmu Komunikasi, 1998, dan Universitas Mataram, Magister Ilmu Hukum, 2007.
Kariernya dimulai sebagai PNS Pemerintah Kota Mataram, 1999 – 2010; Wakil Wali Kota Mataram, periode 2010-2015 dan 2016 -2021; kemudian menjadi Wali Kota Mataram dua periode. Di kancah politik, ia menjadi Ketua DPD Partai GOLKAR Provinsi NTB periode 2025-2030.
Mohan menjelaskan Gerbang Sangkareang adalah simbol lumbung kehidupan sebagai simbol identitas, kreativitas, dan kebanggaan Kota Mataram. Gerbang tersebut sebuah mahakarya arsitektur yang merepresentasikan identitas, dinamika budaya, dan visi masa depan Kota Mataram.
“Gerbang Sangkareang mengangkat konsep “lumbung kehidupan”, ikon agraris masyarakat Sasak yang melambangkan kesejahteraan, ketahanan, dan kebersamaan,” ujarnya di depan dewan juri.
Dewan Juri AK PWI Pusat – HPN 2026 yang terdiri dari tokoh nasional lintas seni, budaya, dan pers, yakni Ketua merangkap anggota Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis, penyair, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat), Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari, artis film), Agus Dermawan T. (Pengamat seni budaya, penulis buku, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (Seniman, budayawan, mantan wartawan, Tim Pakar PWI Pusat), Akhmad Munir (Dewas LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat 2025–2030), masing-masing sebagai anggota.
Melahirkan Ekspresi Turunan
Motif lumbung dalam Gerbang Sangkareang tersebut, menurut Mohan, diterjemahkan ke dalam desain visual kontemporer, memadukan nilai tradisi dengan arsitektur modern. Hasilnya adalah sebuah penanda ruang sekaligus penanda makna kota. Sehingga landmark tersebut bukan hanya memperindah lanskap urban, tetapi juga menegaskan jati diri Mataram.
Lebih dari karya fisik, tambahnya, Gerbang Sangkareang turut menggerakkan ekosistem kreatif kota, melahirkan ragam ekspresi turunan seperti batik motif lumbung, kriya logam, desain publik, hingga identitas visual kota.
Ia menyadari bahwa peran pers dan media memperluas gaung karya para pelaku kreatif setempat, sehingga produk budaya Mataram semakin dikenal luas.
Dalam perspektif pengembangan kota, Gerbang Sangkareang hadir bukan sekadar keputusan estetika, melainkan bagian dari upaya membangun sense of place, roh dan karakter kota.(Rilis-AK PWI)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

