TANGERANG – Google menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus bermitra dengan industri pers di Indonesia, seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mengubah lanskap jurnalisme global. Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Google News Initiative (GNI) Update yang digelar bersama Dewan Pers di Hotel Aston, Minggu (8/2/2026).
Partner Manager sekaligus Head of News Partnerships Google untuk Asia Tenggara, Adeel Farhan, mengatakan Google sejak awal dibangun dengan filosofi menghadirkan informasi yang benar-benar relevan bagi pengguna. Visi itu, kata dia, kini semakin diperkuat oleh teknologi AI.
“Lebih dari dua dekade lalu, salah satu pendiri Google, Larry Page, menyampaikan bahwa mesin pencari terbaik adalah yang benar-benar memahami kebutuhan penggunanya dan memberikan apa yang mereka butuhkan. Hari ini, AI menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut,” ujar Farhan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa inovasi teknologi harus dijalankan secara berani sekaligus bertanggung jawab. Google, kata dia, berkomitmen memaksimalkan manfaat AI bagi masyarakat, sembari mengelola risikonya secara kolaboratif.
“Prinsip kami jelas: inovasi yang berani, pengembangan dan penerapan yang bertanggung jawab, serta kemajuan yang dibangun bersama ekosistem,” tegasnya.
Tiga Pilar Kemitraan Google dengan Industri BeritaDalam paparannya, Farhan menjelaskan tiga fokus utama kemitraan Google dengan industri media. Pertama, penguatan bisnis media melalui berbagai program berskala besar maupun yang disesuaikan dengan kebutuhan ruang redaksi. Kedua, pelatihan jurnalis untuk meningkatkan kompetensi penggunaan berbagai alat digital. Ketiga, penyediaan produk pendukung newsroom, termasuk pemanfaatan teknologi AI seperti Gemini.
Pada kesempatan tersebut, Google juga mengumumkan dua program baru yang akan diluncurkan di Indonesia pada 2026.
Program pertama adalah News AI Lab, sebuah program intensif selama 18 bulan yang mencakup kursus daring, lokakarya praktik langsung, kelas master, hingga eksperimen pemanfaatan AI untuk menjawab tantangan bisnis paling kompleks di organisasi media.
Program kedua adalah Indonesia News Voices, yang difokuskan pada pemberdayaan organisasi berita untuk meningkatkan kapasitas dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Selain itu, Google membuka peluang diskusi lebih lanjut terkait kerja sama dalam program akreditasi jurnalis, sebagai bagian dari penguatan profesionalisme pers nasional.
“Kami berharap kemitraan ini dapat semakin erat pada 2026 dan seterusnya,” pungkasnya.
Dewan Pers: AI Adalah Mitra, Bukan Pengganti Nalar
Sementara itu, Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat menyampaikan pandangannya mengenai peran AI dalam dunia pers, pendidikan, dan riset. Ia mengakui Google dan AI telah memberikan manfaat besar dalam diseminasi informasi, termasuk di lingkungan akademik.
“Google ini seperti ‘Profesor Google, tidak pernah tidur, tidak pernah lapar, dan bisa ditanya kapan saja,” ujar Prof. Komaruddin disambut tawa hadirin.
Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi melemahkan daya kritis, baik di dunia kampus maupun jurnalisme. Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai mitra, bukan pengganti nalar manusia.
Prof. Komaruddin juga menyoroti isu krusial publisher rights. Ia menilai karya jurnalistik terutama liputan investigatif sering menjadi sumber utama ekosistem digital, namun belum sepenuhnya memberikan insentif yang adil bagi jurnalis dan perusahaan pers.
“Kalau wartawan capek-capek melakukan investigasi, tetapi tidak ada pengakuan atau royalti yang layak, ini bisa sangat melemahkan semangat jurnalisme berkualitas,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya dialog terbuka antara Dewan Pers, Google, dan para pemangku kepentingan untuk mencari win-win solution, agar teknologi terus berkembang tanpa mematikan ekosistem pers.
“Ini adalah sebuah quantum leap. Tidak ada preseden sebelumnya. Wajar jika masih ada celah dan tantangan. Yang penting, kita pecahkan bersama,” ujarnya.
Wamen Kominfo: Jurnalisme Berkualitas Tak Tergantikan
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digitalisasi, Nezar Patria, menegaskan bahwa disrupsi teknologi termasuk AI telah berulang kali menghantam industri media. Namun, ia meyakini jurnalisme berkualitas tetap memiliki masa depan.
“Teknologi datang seperti gelombang besar. Media berkali-kali jatuh, bangun lagi, lalu jatuh lagi. Tapi komitmen untuk menghadirkan informasi berkualitas tidak pernah berhenti,” kata Nezar.
Ia mengingatkan bahwa pergeseran dari search engine ke answer engine berbasis AI membawa dampak besar terhadap ekosistem media, termasuk turunnya trafik langsung ke media arus utama serta menjamurnya konten sintetis di media sosial.
Menurut Nezar, tantangan terbesar ke depan adalah otentisitas informasi.
“Konten sintetis video, foto, bahkan peristiwa kini sangat sulit dibedakan dari yang asli. Di sinilah jurnalisme manusia menjadi sangat penting: memastikan verifikasi, konteks, dan kebenaran,” tegasnya.
Nezar menutup dengan menekankan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah, platform digital, dan insan pers untuk menjaga keberlanjutan ekosistem berita di tengah gelombang AI yang kian masif. (AL)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |


