![]() |
| Oleh: Ibnu Haikal Basir |
Sebagai putra-putri daerah yang berasal dari jazirah Loloda—wilayah yang secara administratif dan sosiologis terikat erat dengan Halut dan Halbar—mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dalam merespons bencana ini. Namun, realita menunjukkan adanya semacam "penyakit" ketidaksadaran atau apatisme yang mulai menjangkit kolektifitas mahasiswa Loloda.
Loloda adalah satu kesatuan kultural, meski kini terbagi secara administratif antara Halut dan Halbar. Ketika musibah menimpa salah satu sisi, seharusnya seluruh tubuh merasakan sakitnya. Sangat disayangkan jika mahasiswa Loloda hari ini lebih sibuk dengan rutinitas akademik atau diskusi-diskusi di ruang kopi yang tidak berujung pada aksi nyata.
Ketidaksadaran ini mencerminkan hilangnya fungsi mahasiswa sebagai agent of social change dan iron stock. Kita seolah lupa bahwa identitas mahasiswa bukan hanya tentang indeks prestasi di atas kertas, tetapi tentang sejauh mana kebermanfaatan kita bagi masyarakat saat kondisi darurat melanda.
Membantu tidak selamanya harus dengan materi yang berlimpah. Inisiasi penggalangan dana, pengorganisiran bantuan logistik, atau sekadar menjadi relawan di lapangan adalah bentuk nyata dari kepedulian. Jika untuk saudara sendiri yang sedang tertimpa musibah saja kita diam, lantas untuk siapa lagi idealisme kita ini akan disuarakan.
Ketidaksadaran mahasiswa Loloda untuk turun tangan adalah cermin dari melemahnya nilai-nilai gotong royong dan rasa persaudaraan yang seharusnya menjadi jati diri kita. Kita tidak boleh membiarkan egoisme atau rasa malas menghalangi langkah kita untuk meringankan beban sesama.
Sebuah Panggilan mahasiswa loloda Aksi ini, saya ingin mengetuk pintu hati setiap mahasiswa Loloda, baik yang berada di perantauan maupun di daerah. Mari kita tanggalkan sejenak urusan pribadi dan mulailah mengonsolidasikan diri. Gerakan kecil yang terorganisir jauh lebih bermakna daripada seribu kata simpati di media sosial tanpa tindakan konkret.
Saudara-saudara kita di Halut dan Halbar sedang berjuang di atas puing-puing bencana. Jangan biarkan mereka merasa sendirian. Saatnya kita buktikan bahwa mahasiswa Loloda masih memiliki kesadaran, masih memiliki nurani, dan masih layak menyandang gelar sebagai penyambung lidah rakyat.
Bangunlah dari tidur panjangmu, Mahasiswa Loloda! Saudaramu memanggil.
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

