NAMROLE – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM), Jemaat GPM Labuang, Klasis Buru Selatan, tidak hanya memaknai perayaan sebagai momentum iman dan ucapan syukur, tetapi juga sebagai kesempatan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat tersebut diwujudkan Panitia Hari-Hari Besar Gereja dan Nasional (HBGN) Jemaat GPM Labuang melalui kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah yang menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Buru Selatan.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja Waefuhan Prangit, Jemaat GPM Labuang, Rabu (2/9/2026), ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong HUT ke-91 GPM. Sosialisasi diikuti warga dari unit-unit pelayanan Jemaat GPM Labuang.
Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Penyuluhan Kesmas Bidang Lingkungan Hidup Dinas LH Kabupaten Buru Selatan, Jati Pattilouw, didampingi Kepala Bidang Persampahan dan B3, Nur Aida Loilatu.
Dalam pemaparannya, Pattilouw menekankan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Menurutnya, perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
“Pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik dan benar. Jangan melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang sudah tidak berguna, karena sebagian sampah masih memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan kembali,” jelasnya.
Ia mengajak warga jemaat untuk terlebih dahulu mengenali jenis-jenis sampah sebelum menentukan cara pengelolaannya.
Pattilouw menjelaskan, secara umum sampah dapat dikelompokkan menjadi sampah organik, anorganik, dan sampah khusus.
Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, rumput dan bahan-bahan alami lainnya dapat diolah menjadi pupuk kompos. Pengolahan tersebut, kata dia, tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, termasuk untuk tanaman dan kebun di sekitar rumah maupun fasilitas umum.
Sementara sampah anorganik seperti plastik, kardus, kaleng dan kaca dapat dipilah untuk kemudian didaur ulang atau dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna, termasuk kerajinan tangan dan media penghijauan.
“Jangan semua sampah dianggap tidak berguna. Dengan kreativitas, sampah anorganik dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Sedangkan sampah khusus seperti baterai, lampu dan barang tertentu yang mengandung bahan berbahaya, lanjutnya, harus mendapatkan penanganan secara khusus dan tidak boleh dibuang sembarangan bersama sampah rumah tangga lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pattilouw juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai, saluran air maupun tempat-tempat yang tidak semestinya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menurutnya, dapat memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran, tersumbatnya saluran air hingga meningkatkan risiko banjir.
Ia juga mengingatkan warga untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan.
“Pembakaran sampah secara terbuka dapat menimbulkan polusi udara dan berpotensi memicu kebakaran. Karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Lebih jauh, Pattilouw mendorong agar kepedulian terhadap kebersihan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Menurutnya, kebiasaan memilah dan mengelola sampah perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, gereja maupun masyarakat.
“Kalau kebiasaan menjaga lingkungan ditanamkan sejak anak-anak, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungannya,” katanya.
Sosialisasi Berlanjut ke Praktik dan PerlombaanWarga akan diminta mengolah sampah menjadi berbagai bentuk kerajinan maupun produk yang memiliki nilai manfaat. Hasil kreativitas tersebut nantinya akan dinilai oleh tim juri yang ditunjuk Panitia HBGN sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan HUT ke-91 GPM.
Langkah tersebut menjadi bukti bahwa perayaan HUT GPM tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga berusaha meninggalkan pesan dan karya yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Semangat menjaga lingkungan pun kemudian diperkuat melalui komitmen bersama, yang ditandai dengan penandatanganan pernyataan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sampah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Komitmen tersebut menjadi simbol bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar kewajiban pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan panggilan bersama seluruh warga untuk merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kepada sesama dan ciptaan Tuhan.Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Apono/Singkery, para perangkat pelayan, serta warga masyarakat dari 15 unit pelayanan Jemaat GPM Labuang.
Melalui kegiatan ini, Jemaat GPM Labuang menunjukkan bahwa semangat menyambut HUT ke-91 GPM dapat diwujudkan melalui tindakan nyata: merawat lingkungan, membangun kesadaran, dan menanamkan tanggung jawab bersama demi kehidupan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.(AL)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |



