Close
Close
Orasi Rakyat News

Sagu dan Ubi Ungu Disulap jadi Indikator Kesegaran Daging Ayam

Yogyakarta - LIMA mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang dinamakan SEFTIN, edible film indikator kesegaran pangan berbahan alami yang dapat mendeteksi kesegaran daging ayam melalui perubahan warna.

Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini memanfaatkan pati sagu dan ekstrak antosianin dari ubi ungu sebagai bahan utama.

SEFTIN dikembangkan untuk membantu masyarakat memantau kesegaran daging ayam secara lebih objektif, praktis, dan mudah digunakan.

Adapun pengembangan inovasi SEFTIN ini dilatarbelakangi oleh tingginya konsumsi daging ayam ras di Indonesia. Pada tahun 2025, tercatat konsumsi daging ayam ras mencapai 13,60 kg per kapita per tahun, sementara ketersediaannya mencapai 15,29 kg per kapita per tahun.

Tingginya konsumsi dan ketersediaan tersebut perlu diimbangi dengan pengawasan mutu yang baik mengingat daging ayam merupakan bahan pangan yang mudah rusak. Sebab selama ini, penilaian kesegaran daging masih kerap dilakukan secara subjektif berdasarkan pengamatan indrawi.

Di bawah bimbingan Purwanto, M.Sc., Ph.D., Apt., SEFTIN dikembangkan oleh Novita Nurul Latifa, Nabila Aurora Banuwati, Nabila Putri Herviana, dan Andinar Zahranayla Y., merupakan mahasiswa dari Fakultas Farmasi, serta Asa Nanda Fitria mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Inovasi tersebut memanfaatkan sifat antosianin yang peka terhadap perubahan pH untuk memberikan indikator visual terhadap perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Ketua tim, Novita Nurul Latifa, menuturkan bahwa mekanisme kerja untuk mengetahui tingkat kesegaran daging ayam cukup sederhana, yakni dengan melihat perubahan warna pada edible film yang kemudian dicocokkan dengan stiker skala warna yang telah terintegrasi pada indikator.

“Tingkat kesegaran pangan dapat dideteksi melalui perubahan warna pada edible film, kemudian warna tersebut dicocokkan dengan stiker skala warna yang sudah terintegrasi pada indikator. Jadi, pengguna bisa mengetahui kondisi kesegaran pangan secara real time hanya dengan melihat perubahan warnanya,” ujarnya pada keterangan yang dibagikan, Senin 24 Agustus 2026.

Pengembangan inovasi ini dilakukan secara bertahap melalui rangkaian kegiatan PKM-K. Proses tersebut diawali dengan studi literatur sebagai landasan riset, kemudian dilanjutkan dengan survei pendahuluan kepada responden dari berbagai latar belakang profesi untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan pasar.

“Tim selanjutnya melakukan uji formulasi secara berulang hingga memperoleh formula yang dinilai efektif, dilanjutkan dengan produksi, pengujian produk, serta pengenalan dan pemasaran kepada masyarakat,” katanya.

Untuk meningkatkan kepraktisan dan kemudahan penggunaan, SEFTIN dikembangkan dalam bentuk stiker. Stiker tersebut dapat ditempelkan pada tutup kemasan, seperti kemasan thinwall, sehingga indikator perubahan warna dapat tetap terlihat dari luar tanpa pengguna perlu membuka kemasan.

Hasil pengujian menunjukkan edible film berbasis pati sagu dengan penambahan ekstrak antosianin ubi ungu mampu menunjukkan perubahan warna secara konsisten seiring dengan menurunnya tingkat kesegaran daging ayam.

Perubahan warna tersebut terjadi karena antosianin memiliki sifat yang peka terhadap perubahan pH sehingga dapat merespons secara visual perubahan kondisi kimiawi pada permukaan daging selama penyimpanan.

Novita mengatakan, pada tahap pengembangan saat ini SEFTIN masih difokuskan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam. Namun, inovasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan pada berbagai jenis pangan berprotein tinggi lainnya.

“Saat ini, SEFTIN baru dapat digunakan untuk mendeteksi tingkat kesegaran daging ayam, tetapi berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke jenis pangan berprotein tinggi lainnya,” tuturnya.

Secara keseluruhan, proses produksi SEFTIN terdiri atas tiga tahap utama. Tahap pertama berupa maserasi ubi ungu untuk memperoleh ekstrak antosianin.

Tahap kedua merupakan pembuatan edible film dengan pati sagu sebagai matriks pembentuk film. Tahap terakhir adalah integrasi edible film dengan stiker untuk memudahkan penggunaan produk.

Pengembangan inovasi ini diharapkan dapat membantu mencegah konsumsi daging ayam yang sudah tidak layak melalui pemantauan kesegaran yang lebih objektif dan mudah digunakan oleh masyarakat. Mengusung slogan

“See Freshness, Trust Quality”, tim berharap inovasi SEFTIN dapat terus dikembangkan menjadi produk komersial yang praktis, terjangkau, dan mudah digunakan oleh masyarakat maupun pelaku usaha pangan. “Pengembangan lebih lanjut juga diarahkan untuk meningkatkan kesiapan teknologi serta memperluas penerapan SEFTIN sebagai inovasi pemantauan kesegaran daging yang lebih objektif, berkelanjutan, dan terpercaya,” pungkasnya. (Wit) 

Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama