Ambon – Di tengah gencarnya kampanye transformasi digital, warga Desa Lebelau, Kecamatan Kisar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), justru sedang menikmati “kemewahan” hidup tanpa sinyal. Sudah tiga minggu terakhir, jaringan Telkomsel menghilang tanpa pamit, sementara tower di Taituluwaly tampaknya memilih “cuti panjang” sejak Oktober 2025.
Persekutuan Mahasiswa Asal Pulau Kisar (PMAPK) – Ambon pun angkat suara, meski suara itu kemungkinan besar tidak terdengar di Lebelau, karena, tentu saja, tidak ada jaringan.
Ketua Umum PMAPK Ambon, Jhon G. Mahoklory, menyebut kondisi ini sebagai bentuk “inovasi baru” dalam dunia telekomunikasi: jaringan ada, tapi tidak bisa digunakan.
“Sudah hampir tiga minggu warga tidak bisa menikmati layanan. Mungkin ini bagian dari program penghematan sinyal atau uji coba hidup tanpa internet. Padahal di pulau terpencil seperti Kisar, jaringan itu bukan sekadar kebutuhan, tapi penyambung hidup,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Tak hanya itu, tower baru di Taituluwaly yang sebelumnya digadang-gadang menjadi harapan, kini justru lebih mirip monumen—berdiri tegak, tapi tanpa fungsi. Enam bulan tanpa sinyal, tanpa penjelasan, dan tampaknya tanpa rasa bersalah.
Sekretaris Umum PMAPK Ambon, Onisias Salmanu, menambahkan bahwa warga kini benar-benar “terhubung”, bukan dengan jaringan digital, melainkan dengan ketidakpastian.
“Warga tidak tahu kapan jaringan kembali. Komunikasi dengan keluarga di luar daerah terputus. Mungkin ini cara baru mendekatkan hubungan: saling rindu tanpa kabar,” sindirnya.
PMAPK Ambon pun mendesak Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) MBD untuk segera bertindak. Namun melihat situasi saat ini, warga mulai bertanya-tanya: apakah sinyalnya yang hilang, atau perhatian pemerintah yang ikut menghilang?
“Kami minta Kominfo turun langsung dan berkoordinasi dengan Telkomsel. Jangan sampai masyarakat Kisar terus jadi ‘korban sinyal gaib’ di era digital. Kalau tidak ada respons, kami siap ambil langkah lanjutan, tentu saja dari Ambon, karena dari Kisar sulit mengirim pesan,” tegas Jhon.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kominfo MBD maupun pihak Telkomsel. Sementara itu, warga Desa Lebelau masih setia menunggu, bukan hanya sinyal, tapi juga kepastian.
Di era serba online ini, Kisar tampaknya sedang diajak bernostalgia: kembali ke masa ketika kabar hanya bisa dikirim lewat angin dan doa. (OR-MS)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

