Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

Jalan Salib “Kasih yang Sempurna” di Labuang: Refleksi Iman yang Menggetarkan, Menyatukan, dan Menghidupkan Makna Pengorbanan Kristus

Namrole – Dalam balutan suasana dini hari yang hening dan penuh kekhusyukan, ratusan umat Kristiani di Kota Namrole, Kabupaten Buru Selatan, larut dalam perenungan mendalam melalui prosesi Jalan Salib bertajuk “Kasih yang Sempurna”, Minggu (5/4/2026) dini hari.

Kegiatan Paskah oikumene ini melibatkan lintas denominasi gereja, yakni Gereja Protestan Maluku (GPM) Labuang, Gereja Pantekosta Anugerah Labuang, Gereja Bala Keselamatan Labuang, Paroki Masnana, serta Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Labuang. Persatuan ini menjadi wujud nyata kasih Kristus yang melampaui sekat perbedaan, menghadirkan harmoni iman dalam satu tubuh.

Prosesi sakral sepanjang hampir tiga kilometer itu menghidupkan kembali kisah penderitaan Yesus Kristus di jalan Via Dolorosa. Setiap adegan yang diperagakan bukan sekadar drama, melainkan penghayatan iman yang menggugah kesadaran akan besarnya kasih dan pengorbanan Sang Juruselamat bagi umat manusia.

Sosok Dino Lesnussa yang memerankan Yesus menjadi pusat perhatian. Dengan langkah tertatih memikul salib, ekspresi kesakitan yang mendalam, hingga momen jatuh berulang kali, ia berhasil menghadirkan suasana yang begitu hidup dan menyentuh relung hati penonton.

“Ini bukan karena kami hebat, tetapi karena Tuhan Yesus berkarya melalui kami. Saya hanya menyerahkan diri sepenuhnya agar kehendak-Nya dinyatakan,” ungkap Dino dengan penuh kerendahan hati.

Perjalanan penderitaan itu semakin dramatis saat adegan pengadilan Yesus diperankan dengan kuat. Pilatus, yang diperankan Erik Mailoa, digambarkan berada dalam pergumulan batin antara kebenaran dan tekanan massa. Teriakan saksi-saksi dusta, tekanan para Imam dan amukan massa memaksa hati nurani dikalahkan, hingga akhirnya keputusan penyaliban pun dijatuhkan kepada Yesus yang tidak bersalah.

Di tengah kebengisan algojo dan cambukan yang menghantam tubuh Sang Juruselamat, sosok Maria yang diperankan Hilda Tasane menghadirkan keheningan penuh duka. Tangisnya menjadi simbol kepedihan seorang ibu yang menyaksikan penderitaan anaknya, sekaligus menggugah empati mendalam dari umat yang menyaksikan.

Puncak prosesi terjadi di lapangan alun-alun tribun Kota Namrole saat adegan penyaliban. Dalam suasana yang mendadak hening, ratusan pasang mata tertuju pada satu titik: tubuh Yesus yang diangkat ke kayu salib. Isak tangis pun pecah, menghadirkan pengalaman spiritual yang begitu kuat dan menyentuh.

Koordinator Via Dolorosa, Andre Solissa, menegaskan bahwa pesan utama dari prosesi ini adalah menghadirkan kembali kisah keselamatan yang nyata dan abadi.

“Ini bukan cerita fiktif, tetapi kisah nyata yang harus terus disampaikan kepada dunia. Harapannya bukan hanya ditonton, tetapi dirasakan dan dihidupi oleh setiap umat,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap adegan yang ditampilkan merupakan simbol pengorbanan Yesus yang menanggung dosa umat manusia, sebuah "Kasih Yang Sempurna" yang harus terus diwariskan lintas generasi.

Kesuksesan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja keras panitia HBGN Jemaat GPM Labuang di bawah komando Erik Tanalepy, serta dukungan penuh dari seluruh pimpinan gereja yang terlibat. Ketua AMGPM Ranting Muan Modan, Mario Solissa selaku Ketua Seksi Acara mengungkapkan bahwa seluruh pemeran hanya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk berlatih, dengan sekitar 30 orang terlibat langsung dalam adegan penyaliban.

“Kami berusaha memberikan yang terbaik, bukan untuk kemuliaan manusia, tetapi untuk memuliakan Tuhan,” kata Mario.

Selain menjadi momentum refleksi iman, Paskah oikumene ini juga menjadi simbol persatuan umat. 

Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wen Lesbassa menilai kegiatan ini mampu meruntuhkan sekat antar gereja dan memperkuat kebersamaan dalam iman kasih Kristus.

Apresiasi juga datang dari Bupati Buru Selatan, La Hamidi, yang berharap perayaan Paskah ini membawa damai, harapan baru, serta menjaga situasi daerah tetap aman dan kondusif. Turut hadir dalam Paskah tersebut, Wakil Bupati Gerson Eliaser Selsily, Sekda Prof. Ali Awan, pimpinan OPD dan tamu undangan lainnya.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Jalan Salib “Kasih yang Sempurna” menjadi panggilan iman bagi setiap umat untuk merenungkan kembali arti pengorbanan, menghidupi kasih, dan meneladani Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah dunia yang penuh tantangan, pesan salib tetap abadi: bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang rela berkorban bahkan sampai mati demi keselamatan sesama. (AL) 

Iklan tengah post Baca Juga
Jangan Lewatkan...
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama