Kegiatan diawali dengan ibadah pukul 09.00 WIT yang dipimpin Pdt. H. D. Behuku sebagai liturgos dan Pdt. R. Parera sebagai pelayan firman, dengan perenungan dari Injil Matius 27:11-26 bertema “Bertanggungjawablah Demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan.” Tema ini menjadi refleksi kuat bagi gereja untuk tetap berpihak pada nilai keadilan di tengah berbagai tantangan sosial.
Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wen Lesbassa, dalam pokok-pokok pikirannya menegaskan bahwa gereja tidak boleh hanya hadir sebagai institusi ritual, tetapi harus menjadi ruang hidup yang menghadirkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih di tengah masyarakat.
Momentum sidang tahun ini dinilai istimewa karena berlangsung bersamaan dengan Minggu Sengsara Kristus ke-6 dan perayaan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Lesbassa bahkan menyampaikan ucapan selamat kepada umat Muslim sebagai bentuk nyata toleransi dan persaudaraan.
“Beragama sejatinya adalah membangun relasi dengan Allah melalui relasi kemanusiaan. Kita dipanggil untuk saling menerima sebagai saudara dalam nilai Kai-Wait,” ujarnya.
Nilai Kai-Wait, lanjutnya, merupakan kearifan lokal yang menekankan kasih, keterbukaan, dan penghormatan tanpa memandang perbedaan. Nilai ini tercermin dalam tradisi penyambutan masyarakat Buru Selatan yang sarat makna penerimaan dan persaudaraan.
Dalam arah pelayanannya, Lesbassa menekankan pentingnya peran profetik gereja untuk menjadi teladan moral di tengah berbagai krisis, termasuk disrupsi teknologi dan degradasi etika.
“Kita tidak boleh melumrahkan ujaran kebencian, perundungan, kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan. Gereja harus hadir sebagai suara kebenaran dan pembawa damai,” tegasnya.
Sidang ini juga menjadi bagian dari implementasi tema besar pelayanan lima tahunan GPM, “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM,” dengan subtema 2026, “Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah.”
Ke depan, Klasis GPM Buru Selatan akan menetapkan Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) 2026–2030 yang berfokus pada penguatan pendidikan, pembinaan anak dan remaja melalui SM-TPI, pembinaan keluarga (Binakel), peningkatan kapasitas pelayan, serta pengelolaan lingkungan hidup.
Di sektor pendidikan, gereja memberi perhatian serius terhadap sekolah-sekolah di bawah Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala, khususnya dalam mengatasi keterbatasan tenaga guru. Sementara itu, pembinaan keluarga ditegaskan sebagai fondasi utama melalui konsep “gereja rumah tangga” (ecclesia domestica).
Selain itu, gereja juga mendorong kesadaran ekologis dengan mengajak jemaat menjaga lingkungan dan kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan.
Arahan Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM yang disampaikan Penatua Natelda R. Timisela menegaskan bahwa sidang ini memiliki posisi strategis dalam menerjemahkan visi baru GPM menuju satu abad pada 2035, yakni menjadi gereja yang berbuah dalam anugerah Allah Tritunggal.“Gereja tidak hadir untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi agen pemulihan yang menyentuh luka sosial, batin, dan struktural dalam masyarakat,” ungkapnya.
Berbagai isu strategis turut menjadi perhatian, mulai dari kemiskinan, pendidikan, kesehatan, krisis keluarga, hingga dampak eksploitasi sumber daya alam. Gereja didorong untuk menghadirkan pelayanan yang inovatif, kontekstual, dan berbasis transformasi nyata.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Buru Selatan, La Hamidi, menyampaikan bahwa gereja merupakan mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pembinaan moral, spiritual, serta penguatan nilai toleransi dan kebersamaan.
Ia berharap hasil sidang dapat bersinergi dengan program pembangunan daerah, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan masyarakat, baik di wilayah pesisir maupun pegunungan.Sidang ini dihadiri lebih dari 100 peserta dari 29 jemaat, serta unsur Forkopimda, DPRD, pimpinan OPD, AMGPM, dan para tokoh masyarakat. Rangkaian sidang berlangsung dari pukul 14.17 hingga 16.49 WIT dengan berbagai pembahasan strategis terkait arah pelayanan gereja ke depan.
Dengan semangat Kai-Wait dan komitmen 3T, Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan diharapkan menjadi tonggak penting dalam menghadirkan gereja yang relevan, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. (Tim)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |



