Jakarta – Perjalanan politik Zamroni Syafiy Vanath kembali menjadi perhatian publik. Setelah gagal melenggang ke DPRD Provinsi Maluku pada Pemilu 2024, ia justru melesat cepat memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Maluku, sebelum akhirnya hengkang dan bergabung dengan Partai NasDem.
Zamroni sebelumnya maju sebagai calon legislatif DPRD Provinsi Maluku dari PKB di Daerah Pemilihan (Dapil) Seram Bagian Timur. Namun, ia hanya meraih 3.180 suara, sehingga gagal merebut kursi legislatif periode 2024–2029.
Tak lama setelah itu, Zamroni justru dipercaya menjadi Ketua DPW PSI Maluku, menggantikan Ronald Kneefel. Penunjukan tersebut tertuang dalam SK DPP PSI dan diserahkan langsung oleh jajaran pengurus pusat di Jakarta.
Padahal, di bawah kepemimpinan Ronald, PSI Maluku tengah mengalami lonjakan signifikan pada Pemilu 2024, dari satu kursi menjadi delapan kursi di tingkat kabupaten/kota.
Sebagai Ketua DPW PSI, Zamroni sempat menunjukkan optimisme besar. Ia menargetkan PSI bisa menembus DPRD Provinsi Maluku hingga DPR RI pada Pemilu 2029, dengan memperkuat konsolidasi dan struktur partai hingga ke daerah-daerah yang belum memiliki kursi.
Namun, arah politiknya kembali berubah.
Pada 5 Mei 2026, Zamroni resmi bergabung dengan Partai NasDem. Momen tersebut berlangsung di NasDem Tower, Jakarta, ditandai dengan penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA) dan penyematan jaket partai oleh Sekjen NasDem, Hermawi Taslim.
Melalui media sosial resminya, Partai NasDem bahkan “memamerkan” bergabungnya Zamroni sebagai tambahan energi baru, khususnya untuk memperkuat basis politik di Maluku.
Zamroni menyebut keputusannya pindah ke NasDem bukan langkah mendadak. Ia mengaku telah menjalin komunikasi panjang dan merasa sejalan dengan visi serta gagasan restorasi yang diusung partai tersebut.
“Saya pindah ke NasDem karena pilihan hati saya. Ini keputusan bulat,” ujarnya.
Ia juga mengisyaratkan akan membawa kader dan jaringan yang selama ini dibangunnya untuk ikut bergabung ke NasDem, sebagai bagian dari konsolidasi politik baru di Maluku.
Meski demikian, manuver politik Zamroni memunculkan tanda tanya. Perpindahan dari PKB ke PSI, lalu ke NasDem dalam waktu relatif singkat, dinilai sebagian kalangan sebagai langkah oportunistik, sementara yang lain melihatnya sebagai strategi mencari panggung politik yang lebih kuat.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah kehadiran Zamroni akan benar-benar mendongkrak kekuatan NasDem di Maluku, khususnya di Seram Bagian Timur? Atau justru mengulang kegagalan politik yang pernah dialaminya pada Pemilu 2024?
Hingga kini, belum ada kejelasan posisi atau jabatan strategis yang akan diemban Zamroni di Partai NasDem.
Dinamika ini juga memicu spekulasi lain, termasuk kemungkinan adanya “balas gerakan” politik antar partai, mengingat sebelumnya sejumlah kader NasDem diketahui bergabung ke PSI.
Yang pasti, langkah Zamroni menjadi satu lagi contoh betapa cairnya peta politik menjelang kontestasi mendatang.
Publik kini menunggu, apakah langkah ini akan berujung pada lonjakan karier politik, atau justru menjadi catatan lain dari perjalanan yang belum menemukan titik stabil. (OR-02)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

