Ambon - Himpunan Mahasiswa Program Studi Agama dan Budaya kembali terus membakar semangat dan pikiran kritis melalui kegiatan Ngobrol Pintar. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 10.20–13.00 WIT dan dihadiri oleh dosen serta mahasiswa IAKN Ambon. Ngobrol Pintar kali ini menghadirkan suasana diskusi yang lebih serius dengan dialektika mendalam, mengangkat tema "Membayangkan Masyarakat Maluku Tanpa Negara: Sejarah, Tantangan, dan Imajinasi Sosial".
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Victor Delvy Tutupary sebagai dosen IAKN Ambon, Zulfadly Tawainella sebagai aktivis masyarakat adat, dan Dietrick Hiskia sebagai perwakilan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK).
Dalam pemaparan materinya, Victor Delvy Tutupary menjelaskan bahwa konsep “masyarakat tanpa negara” bukanlah ajakan untuk menolak keberadaan negara, namun untuk memahami bagaimana masyarakat adat telah lama memiliki sistem pengaturan sosialnya sendiri.
“Masyarakat Maluku itu sejak dulu hidup dengan pranata adat yang kuat. Negeri, soa, dan kepala-kepala adat adalah institusi sosial yang terbentuk jauh sebelum negara hadir. Ketika kita membayangkan masyarakat tanpa negara, kita sedang membahas bagaimana sistem-sistem itu bekerja dan bertahan,” jelasnya.
Sementara itu, Zulfadly Tawainella menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat adat dalam tekanan kapitalisme dan ekspansi industri yang terus masuk ke wilayah-wilayah adat. Ia menegaskan bahwa masyarakat adat hanya bisa bertahan jika tetap menjaga pengetahuan lokal dan kedaulatan ruang hidup mereka.
“Negara kadang hadir, tapi tidak selalu berpihak. Yang membuat masyarakat adat tetap hidup adalah hubungan mereka dengan tanah, hutan, laut, dan sistem pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Tantangannya hari ini adalah bagaimana bertahan ketika kapitalisme masuk dan negara sering kali berdiri di belakangnya,”ungkapnya.
Perwakilan mahasiswa, Dietrick Hiskia, memberi perspektif tentang bagaimana generasi muda perlu memahami dinamika relasi antara negara, masyarakat adat, dan kekuatan ekonomi. Ia menekankan bahwa diskusi seperti ini penting agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami realitas sosial di Maluku.
“Sebagai mahasiswa, kita harus mampu melihat bahwa masyarakat adat bukan objek penderita. Mereka punya kekuatan, mereka punya sejarah panjang. Kita belajar untuk melihat bagaimana negara membentuk struktur sosial, tapi juga bagaimana masyarakat adat menciptakan ruang-ruang perlawanan dan keberlanjutan,”ujarnya.
Kegiatan Ngobrol Pintar ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang memperlihatkan antusiasme mahasiswa dalam mengkritisi konsep negara, adat, dan masa depan masyarakat Maluku di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. (EH)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |

