Close
Close
Orasi Rakyat News
Orasi Rakyat News

Melampaui Ilusi : Mengapa Berpikir Rasional adalah "Superpower" Paling Underrated di Abad 21

Oleh: [Markus M. Mite - pegiat sosial]
PERNAHKAH Anda bertanya-tanya, mengapa orang yang sangat cerdas bisa tertipu investasi bodong? Mengapa perdebatan di grup WhatsApp keluarga sering kali berakhir tanpa solusi? Atau mengapa kita sering membeli barang yang tidak kita butuhkan hanya karena diskon 50%?


Jawabannya terletak pada satu fakta yang tidak nyaman: Manusia tidak dilahirkan sebagai pemikir rasional. Kita dilahirkan sebagai pemikir yang bertahan hidup.


Selama ribuan tahun evolusi, otak kita dirancang untuk lari dari harimau, mencari makanan secepat mungkin, dan berbaur dengan suku agar tidak diusir. Otak kita tidak dirancang untuk menganalisis data saham, memverifikasi berita hoaks, atau memahami statistik pandemi. Akibatnya, di dunia modern yang kompleks ini, "perangkat lunak" kuno di kepala kita sering kali mengalami glitch atau kesalahan sistem.


Artikel ini bukan sekadar ajakan untuk "berpikir logis", melainkan sebuah peta jalan untuk mengambil alih kendali atas pikiran Anda sendiri sebuah seni yang kita sebut Rasionalitas.


## 1. Dua Nahkoda di Kepala Kita: Sistem 1 vs. Sistem 2

Untuk memahami rasionalitas, kita harus membedah mesinnya terlebih dahulu. Psikolog pemenang Nobel, Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa otak kita memiliki dua mode operasi:


Sistem 1 (Sang Autopilot): Cepat, intuitif, emosional, dan otomatis. Ini yang bekerja saat Anda menyetir di jalan kosong, mengenali wajah teman, atau lari saat melihat bahaya. Ia hemat energi tapi rentan kesalahan.

Sistem 2 (Sang Analis): Lambat, penuh usaha, logis, dan penuh perhitungan. Ini yang bekerja saat Anda mengerjakan soal matematika rumit, membandingkan spesifikasi laptop, atau belajar bahasa baru. Ia akurat tapi sangat boros energi.


Masalah utama ketidakrasionalan terjadi ketika Sistem 1 membajak tugas Sistem 2.


Contoh sederhana: Anda membaca judul berita yang membuat darah mendidih. Sistem 1 berteriak, "Ini gila! Sebarkan!". Tangan Anda bergerak membagikan tautan itu. Padahal, jika Sistem 2 diberi kesempatan 30 detik saja, ia mungkin akan memeriksa tanggal berita tersebut atau kredibilitas situsnya. Rasionalitas adalah seni melatih diri untuk "membangunkan" Sistem 2 di saat-saat kritis.


## 2. Museum Kegagalan Berpikir (Bias Kognitif)

Otak kita mencintai jalan pintas. Jalan pintas ini disebut heuristik. Namun, seringkali jalan pintas ini menyesatkan kita menjadi bias kognitif. Berikut adalah koleksi bias yang paling sering menyabotase hidup kita:


### a. The Sunk Cost Fallacy (Kesesatan Biaya Hangus)

Pernahkah Anda melanjutkan menonton film yang sangat membosankan hanya karena "sayang sudah bayar tiket"? Atau bertahan dalam hubungan toksik karena "sudah pacaran 5 tahun"?

Rasionalitas mengajarkan: Uang tiket dan waktu 5 tahun itu sudah hilang (hangus). Keputusan Anda detik ini harus didasarkan pada keuntungan di masa depan, bukan kerugian di masa lalu.


### b. Survivorship Bias (Bias Kesintasan)

Kita sering mendengar: "Mark Zuckerberg dan Bill Gates drop out kuliah dan jadi miliarder. Jadi kuliah itu tidak penting!"

Ini adalah cacat logika fatal. Kita hanya melihat mereka yang "selamat" (sukses). Kita lupa pada ribuan orang lain yang drop out kuliah dan hidup susah, yang ceritanya tidak pernah dimuat majalah. Orang rasional melihat data statistik keseluruhan, bukan hanya cerita heroik para pemenang.


### c. Tribalism & Confirmation Bias (Tribalisme & Bias Konfirmasi)

Di era media sosial, algoritma memberi makan kita informasi yang kita sukai. Jika Anda membenci Tokoh A, Anda akan disuguhi berita keburukan Tokoh A. Otak kita merasa nyaman saat opini kita dibenarkan.

Menjadi rasional berarti berani merasa tidak nyaman. Ia menuntut kita untuk sengaja mencari argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Seperti kata Charlie Munger, "Saya tidak mengizinkan diri saya memiliki sebuah opini kecuali saya tahu argumen lawan lebih baik daripada lawan saya sendiri."


## 3. Epistemik vs. Instrumental: Dua Sayap Rasionalitas

Rasionalitas bukan entitas tunggal. Keith Stanovich, seorang pakar psikologi kognitif, membaginya menjadi dua:


1.  Rasionalitas Epistemik (Pencarian Kebenaran):

 Ini tentang apa yang Anda percayai. Apakah peta di kepala Anda sesuai dengan wilayah aslinya? Orang yang rasional secara epistemik peduli pada bukti. Jika bukti berubah, pendapatnya berubah. Ia tidak fanatik buta.

2.  Rasionalitas Instrumental (Pencapaian Tujuan):

 Ini tentang apa yang Anda lakukan. Diberikan sumber daya yang Anda miliki (waktu, uang, tenaga), apa cara paling efektif untuk mencapai tujuan Anda?

Contoh: Merokok itu tidak rasional secara instrumental jika tujuan Anda adalah umur panjang. Namun, jika tujuan hidup Anda hanyalah kenikmatan sesaat tanpa peduli masa depan, maka merokok bisa dianggap rasional bagi Anda (meski tragis).


Kecerdasan sejati adalah gabungan keduanya: Memiliki peta dunia yang akurat (Epistemik) dan menavigasi peta tersebut dengan strategi terbaik (Instrumental).


## 4. Toolkit Pemikir Rasional: Senjata Melawan Kekacauan

Bagaimana cara melatihnya? Kita tidak bisa sekadar "berniat" menjadi rasional. Kita butuh alat bantu mental (mental models):


Probabilistic Thinking (Berpikir Probabilitas):

Dunia bukan hitam-putih (benar/salah). Dunia adalah spektrum abu-abu. Alih-alih berkata "Ide bisnis ini pasti sukses", katakan "Ide ini memiliki peluang sukses 70% berdasarkan data pasar". Ini membuat kita siap menghadapi kegagalan dan lebih hati-hati dalam bertaruh.

First Principles Thinking (Berpikir dari Prinsip Pertama):

    Metode yang dipopulerkan Elon Musk. Jangan memecahkan masalah dengan cara meniru orang lain (analogi). Pecahkan masalah dengan membedahnya hingga ke kebenaran paling dasar.

    Contoh: "Mobil listrik itu mahal." (Analogi).

Prinsip Pertama: "Apa penyusun baterai? Kobalt, nikel, lithium. Berapa harga pasar bahan ini? Murah. Jadi, mobil listrik mahal bukan karena bahannya, tapi karena cara kita menyusunya yang salah."

*   Hanlon’s Razor:

    "Jangan menganggap sesuatu sebagai kejahatan jika bisa dijelaskan oleh kebodohan atau kelalaian."

    Alat ini sangat berguna untuk menjaga kedamaian hati. Jika teman tidak membalas chat, jangan langsung berasumsi dia membenci Anda (kejahatan), mungkin dia hanya lupa atau sibuk (kelalaian). Ini menghindarkan kita dari drama yang tidak perlu.


## 5. Kesimpulan: Kemerdekaan Sejati

Menjadi rasional di dunia yang irasional adalah sebuah tindakan pemberontakan.


Ketika masyarakat menuntut kita untuk marah, kita memilih untuk meneliti. Ketika iklan menuntut kita untuk konsumtif, kita memilih untuk menghitung nilai. Ketika politisi menuntut kita untuk fanatik, kita memilih untuk skeptis.


Rasionalitas berpikir bukanlah tentang menjadi robot dingin tanpa perasaan. Justru sebaliknya, dengan berpikir rasional, kita melindungi perasaan kita agar tidak dipermainkan oleh keadaan. Kita menjadi tuan atas diri sendiri. 

Baca Juga
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami
agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama