TIFU - Semangat persaudaraan, kasih, dan pelayanan mewarnai kegiatan Koinonia Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Ranting Muan Modan, Labuang Cabang Talitakumi, bersama AMGPM Ranting Ebenhaezer, Tifu Cabang Ebenhaezer, Daerah Buru Selatan. Selama tiga hari, 9–11 Oktober 2026, kedua ranting merajut kebersamaan dalam iman sekaligus memperkuat komitmen pemuda gereja untuk menjadi garam dan terang dunia.
Kegiatan yang berlangsung di Jemaat GPM Tifu tersebut tidak sekadar menjadi ajang perjumpaan antarpemuda, tetapi juga ruang untuk mempererat tali persaudaraan, membangun karakter, mengembangkan kepemimpinan, serta menumbuhkan kesadaran akan panggilan pelayanan di tengah gereja dan masyarakat.
Beragam agenda dikemas dalam kegiatan ini, mulai dari sosialisasi organisasi melalui program “Beta AMGPM”, permainan kebersamaan, jalan pagi, senam bersama, aksi bersih lingkungan, pertandingan gawang mini, ibadah syukur, hingga meditasi dan doa bersama di sekitar api unggun.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para pemuda diajak memahami bahwa iman Kristen tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga melalui sikap saling mengasihi, menghargai, melayani, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Perkuat Identitas dan Kepemimpinan Pemuda Gereja
Pada hari pertama, Jumat (9/10/2026), kegiatan diawali dengan pengenalan dan sosialisasi “Beta AMGPM” bagian pertama yang membahas identitas AMGPM, peran pemuda gereja, organisasi, serta tugas dan tanggung jawab anggota dalam pelayanan.
Materi yang disampaikan Bung Emo Seleky ini menjadi bekal bagi para peserta untuk memahami keberadaan AMGPM bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan wadah pembinaan iman, karakter, dan tanggung jawab pelayanan.
Kegiatan dilanjutkan dengan permainan kebersamaan yang menekankan kerja sama, kekompakan, komunikasi, dan sportivitas.
Pada sesi berikutnya, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Aponno menyampaikan materi mengenai penguatan kompetensi kepemimpinan, keterampilan komunikasi publik, serta cara berbicara yang baik sebagai orang muda.
Pembinaan ini diharapkan dapat mendorong pemuda AMGPM menjadi pribadi yang berani menyampaikan gagasan, mampu bekerja sama, dan siap mengambil bagian dalam pelayanan gereja maupun kehidupan bermasyarakat.Iman Diwujudkan Lewat Kepedulian
Memasuki hari kedua, Sabtu (10/10/2026), semangat kebersamaan diwujudkan melalui jalan pagi, senam bersama, dan aksi bersih lingkungan.
Kedua ranting berjalan bersama, berolahraga, serta membersihkan lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan kebersihan. Kegiatan tersebut juga disertai pemasangan imbauan mengenai pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu bentuk nyata panggilan iman. Pemuda Kristen tidak hanya dipanggil untuk menjaga hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga bertanggung jawab memelihara lingkungan sebagai bagian dari kehidupan bersama.Suasana persaudaraan semakin terasa dalam pertandingan persahabatan gawang mini antara anggota kedua ranting. Pertandingan itu berlangsung dengan semangat sportivitas dalam kebersamaan dan bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan.
Pada malam harinya, kedua ranting mengikuti ibadah syukur Hari Ulang Tahun AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu ke 72 Tahun. Ibadah tersebut menjadi momentum untuk mengucap syukur atas perjalanan pelayanan sekaligus mempererat ikatan persaudaraan antarpemuda.
Berbagi Kasih hingga Api Unggun
Pada Minggu (11/10/2026), anggota kedua ranting mengikuti ibadah Minggu bersama. Dalam kesempatan itu, AMGPM Ranting Muan Modan turut mengambil bagian dalam pelayanan pujian.
Kepedulian terhadap generasi muda juga diwujudkan melalui sosialisasi tabungan SimPel kepada anak-anak Sekolah Minggu Jemaat GPM Tifu. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pentingnya budaya menabung sejak dini.
Puncak kegiatan Koinonia berlangsung pada malam hari melalui meditasi, api unggun, dan doa bersama. Suasana penuh keakraban tercipta ketika para peserta mengikuti berbagai permainan yang dirancang untuk memperkuat kekompakan. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya hadiah bagi peserta.
Untuk membangun kerja sama dan semangat kebersamaan, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni Kelompok Nasaret, Taman Eden, dan Galilea.
Di tengah suasana hangat api unggun, para pemuda diajak mengambil waktu untuk merenungkan perjalanan iman, pelayanan, persaudaraan, serta panggilan mereka sebagai generasi muda gereja.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pemuda memiliki peran dalam menghadirkan kasih Kristus, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Perbedaan ranting, tempat tinggal, dan latar belakang bukan alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan menguatkan sebagai saudara seiman.Cinderamata Simbol Persaudaraan
Selain kegiatan pembinaan dan persekutuan, acara ini juga diwarnai dengan pertukaran cinderamata dari AMGPM Ranting Muan Modan, Labuang, dengan AMGPM Ranting Ebenhaezer, Tifu, serta pertukaran cinderamata antara Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang dan Ketua Majelis Jemaat GPM Tifu.
Pertukaran cinderamata tersebut menjadi simbol penghargaan, penerimaan, dan ikatan persaudaraan yang terbangun selama kegiatan berlangsung.
Mario Solissa: Persaudaraan Harus Terus Dipelihara
Ketua AMGPM Ranting Muan Modan, Mario Solissa, menyampaikan bahwa kegiatan Koinonia bukan sekadar pertemuan antarpemuda, melainkan momentum untuk membangun hubungan persaudaraan yang lebih erat sebagai satu keluarga dalam Kristus.
“Melalui kegiatan ini, kita belajar bahwa dalam persekutuan sebagai pemuda gereja, kita bukan hanya teman pelayanan, tetapi saudara dalam iman. Karena itu, hubungan yang sudah terbangun selama kegiatan ini jangan berhenti sampai di sini, tetapi harus terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh anggota AMGPM agar tidak sungkan untuk saling berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan memberikan dukungan ketika menghadapi persoalan.
“Kalau ada saudara kita yang mengalami kesulitan, jangan kita membiarkannya berjalan sendiri. Mari saling membantu, saling menguatkan, dan saling menopang. Sebab, kekuatan pemuda gereja bukan hanya terletak pada banyaknya anggota, tetapi pada kasih dan kepedulian yang kita tunjukkan satu sama lain,” pesannya.
Pdt. Ine Aponno: Kita Satu Keluarga dalam Kristus
Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Ine Aponno/Singkery, menyampaikan terima kasih kepada pengurus AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu yang telah menerima rombongan AMGPM Ranting Muan Modan dengan penuh sukacita.
Ia mengapresiasi Ketua Majelis Jemaat GPM Tifu, seluruh pengurus dan anggota AMGPM Ranting Ebenhaezer, dan para pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut sehingga kedua ranting dapat bersekutu, berbagi pengalaman, dan mempererat hubungan persaudaraan.
“Kami menyampaikan terima kasih karena telah diterima dengan penuh sukacita. Bagi kami, perjumpaan ini bukan sekadar kunjungan organisasi, melainkan perjumpaan keluarga dalam Kristus. Kita datang dari ranting yang berbeda, tetapi kita memiliki iman dan Tuhan yang sama,” ungkapnya.
Ia berharap kebersamaan yang telah dibangun selama tiga hari dapat menjadi dasar bagi kerja sama pelayanan yang berkelanjutan.
“Kiranya setelah kegiatan ini, hubungan persaudaraan kita semakin kuat. Jangan sampai setelah berpisah, komunikasi dan kebersamaan kita ikut berakhir. Mari terus saling mendukung dalam pelayanan, sebab kita dipanggil untuk bertumbuh bersama dan menjadi berkat bagi gereja serta masyarakat,” pesannya.
Syeny Solissa: Datang sebagai Saudara, Pulang Membawa Kasih
Sekretaris AMGPM Ranting Ebenhaezer Tifu, Syeny Solissa, yang mewakili Ketua Ranting Simon Solissa, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran dan kebersamaan anggota AMGPM Ranting Muan Modan di Tifu.
Menurutnya, perjumpaan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi kedua ranting untuk saling mengenal lebih dekat, membangun komunikasi, dan memperkuat ikatan persaudaraan sebagai sesama pemuda gereja.
“Kami menyambut saudara-saudara dari Ranting Muan Modan dengan penuh sukacita. Bagi kami, ketika saudara datang berkunjung, saudara tidak datang sebagai orang lain, tetapi datang ke rumah keluarga sendiri. Karena itu, jangan pernah merasa asing ketika berada di tengah-tengah kami,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus hidup meskipun kegiatan Koinonia telah berakhir.
“Di mana pun kita berada, kita tetap bersaudara dalam Kristus. Mari membawa pulang pengalaman, sukacita, dan kasih yang kita bagikan selama kegiatan ini. Jika ada kekurangan dalam penerimaan kami, kiranya dapat dimaafkan. Yang terpenting, kita tetap menjaga hubungan baik dan terus berjalan bersama dalam pelayanan,” tuturnya.
Pdt. Glen Huwae: Bawa Pulang Hal Baik, Tinggalkan Kekurangan
Ketua Majelis Jemaat GPM Tifu, Pdt. Glen Huwae, mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan Koinonia sebagai momentum untuk memperkuat kasih, saling memaafkan, dan menjaga persaudaraan.
Ia mengingatkan bahwa dalam setiap perjumpaan, mungkin terdapat perkataan, sikap, atau tindakan yang kurang berkenan. Namun, hal tersebut hendaknya tidak menjadi penghalang untuk terus membangun hubungan yang baik sebagai saudara seiman.
“Dalam kebersamaan ini, mungkin ada hal-hal yang kurang berkenan di hati, baik melalui perkataan maupun tindakan. Atas nama jemaat, kami memohon maaf apabila ada kekurangan selama menerima saudara-saudara sekalian. Mari kita saling memaafkan dan membawa pulang hal-hal yang baik dari perjumpaan ini,” pesannya.
Ia juga mengajak para pemuda untuk tidak membiarkan semangat persaudaraan hanya menyala selama kegiatan berlangsung, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kiranya kasih Tuhan Yesus senantiasa memimpin langkah kita. Setelah kembali ke tempat masing-masing, tetaplah menjadi saudara yang saling mengasihi, saling menolong, dan saling mendoakan. Biarlah melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat terang Kristus dan merasakan kasih-Nya,” tutupnya.
Dipanggil Menjadi Garam dan Terang Dunia
Rangkaian Koinonia AMGPM Ranting Muan Modan dan Ranting Ebenhaezer Tifu menjadi pengingat bahwa pemuda Kristen memiliki panggilan penting untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Menjadi Garam Dan Terang Dunia bukan hanya tentang berbicara mengenai iman, tetapi juga berani menunjukkan kasih melalui tindakan nyata: merangkul yang berbeda, menolong yang membutuhkan, menjaga lingkungan, membangun persaudaraan, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui persekutuan ini, kedua ranting diharapkan semakin kuat dalam iman, bertumbuh dalam kasih, serta teguh menjalankan tanggung jawab pelayanan.
Sebab, ketika pemuda gereja berjalan bersama dalam kasih Kristus, perbedaan bukan menjadi pemisah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
Dari Tifu, persaudaraan itu dirajut. Dari persekutuan itu, semangat pelayanan kembali diteguhkan. Dan dari iman yang hidup, pemuda AMGPM dipanggil untuk terus menjadi garam dan terang dunia, bagi kemuliaan nama Tuhan. (AL)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |





