![]() |
| Proses Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kapel |
Komunitas yang terdiri dari sekitar 30 orang tersebut selama ini kesulitan menjangkau pusat Paroki maupun Stasi terdekat karena jarak yang mencapai 5 hingga 7 kilometer. Kendala transportasi menjadi hambatan utama bagi mereka untuk mengikuti Perayaan Ekaristi (Misa).
Yuliana Reyaan, seorang Katekis yang mendampingi warga, mengungkapkan rasa harunya atas keteguhan iman umat meski dalam keterbatasan.
“Mereka sangat rindu menerima Komuni, namun jaraknya terlalu jauh. Kami ingin membantu, namun sepeda motor kami hanya satu dan tidak cukup untuk mengangkut banyak orang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
![]() |
| Umat Kombas saat menikmati Snake dan latar belakang kapele sudah berdiri |
Ketua DPS Stasi Santo Yoseph, Menase Boger, menjelaskan bahwa kehadiran komunitas asal Papua ini merupakan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Stasi.
“Umat Katolik asal Papua di sini adalah diaspora yang menjadi bagian dari umat Stasi Santo Yoseph. Cakupan wilayah kami memang luas, meliputi kawasan Goa Maria Diangkat ke Surga (Km 9), Kompi TP 912/Jargaria Sakti, Pangkalan TNI Angkatan Laut, area Perikanan, hingga Belakang Wamar,” jelas Menase saat ditemui di lokasi.
Sebagai langkah nyata optimalisasi pelayanan pastoral, sebuah kapel yang berfungsi sebagai rumah doa sederhana kini mulai berdiri tegak di wilayah tersebut. Pantauan di lapangan menunjukkan proses pembangunan dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh umat Stasi Santo Yoseph bersama anggota Kombas setempat. (YL)
![]() |
| Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |


