Ambon - Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menggelar demonstrasi besar-besaran di depan gedung rektorat pada hari Sabtu (30/08/2025). Aksi ini dimulai pada pukul 10.13 WIB dan berakhir pada pukul 12.30 WIB, dengan sejumlah tuntutan yang mencerminkan ketidakpuasan terhadap berbagai kebijakan universitas.
Aksi yang dipimpin oleh koordinator aksi Merlon Sabantoton tersebut menyuarakan keresahan mahasiswa terkait fasilitas kampus yang dinilai belum memadai, terutama di Fakultas Hukum. Merlon menjelaskan bahwa meskipun Fakultas Hukum telah melahirkan enam angkatan mahasiswa, ruang kuliah yang disediakan hanya dua bilik, yang jelas tidak mencukupi untuk menampung jumlah mahasiswa yang terus berkembang.
“Hari ini, kami ingin mengingatkan pihak universitas agar tidak menutup mata terhadap persoalan fasilitas yang sangat terbatas ini. Selain itu, biaya kesehatan yang terus meningkat juga menjadi keluhan kami. Masih banyak masalah lainnya yang perlu segera ditangani oleh pihak kampus,” jelas Merlon dalam orasinya.
Selain masalah fasilitas, para mahasiswa juga menyoroti sejumlah kebijakan lainnya yang dirasa memberatkan, seperti tingginya biaya kesehatan dan beasiswa yang tidak tepat sasaran. Dalam aksi ini, ada 8 orator yang menyampaikan aspirasi mereka, menggambarkan berbagai isu yang dihadapi oleh mahasiswa dari tujuh fakultas di UKIM.
Berikut adalah beberapa poin tuntutan yang diajukan oleh para demonstran:
-
Mendesak pihak universitas untuk mempertimbangkan kembali biaya kesehatan yang dinilai tidak sebanding dengan pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa.
-
Mendesak universitas untuk meninjau kembali kebijakan pembayaran uang semester sebesar 60%, yang dianggap memberatkan mahasiswa yang kurang mampu.
-
Meminta universitas untuk memberikan fleksibilitas dalam batas waktu pembayaran dan registrasi.
-
Mengkritik kemampuan universitas dalam menciptakan mahasiswa yang kritis dan intelektual menjelang ulang tahun kampus.
-
Meminta rektor untuk segera menambah ruang kuliah di Fakultas Hukum, seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa.
-
Mendesak pihak universitas untuk mengevaluasi kembali kebijakan beasiswa yang dinilai tidak tepat sasaran.
-
Meminta transparansi dan akuntabilitas dalam pemberian beasiswa KIP kepada mahasiswa.
-
Menuntut kebijakan pelayanan perpustakaan bagi mahasiswa yang tidak memiliki kartu perpustakaan.
“Karena hari ini kami tidak bisa melakukan audiensi dengan pimpinan, maka kami akan melakukan aksi jilid 2, 3, dan seterusnya, hingga kami dapat bertemu dengan rektor untuk membahas tuntutan kami,” tegas salah satu orator.
Di akhir demonstrasi, koordinator aksi Merlon Sabantoton menyampaikan terima kasih kepada seluruh mahasiswa UKIM yang telah berpartisipasi dalam aksi ini dan mendukung perjuangan untuk perbaikan kampus.
Aksi ini diperkirakan akan terus berlanjut, dengan harapan pihak universitas dapat segera merespon tuntutan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih baik. (OR-MS)
![]() |
Klik ☝ untuk mengikuti akun Google News Kami agar anda tidak ketinggalan berita menarik lainnya |