Close
Close
Orasi Rakyat
Orasi Rakyat
Orasi Rakyat

Studi Penelitian, Mantan Kapolda Maluku Kunjungi Gunung Botak





Lagu Terbaik Tahun 2021

Namlea, Orasirakyat.com
Mantan Kapolda Maluku yang kini bertugas di Mabes Polri sebagai Analisis Kebijakan Utama Lemdiklat Polri, Irjen Pol Royke Lumowa, menyambangi eks tambang iegal Gunung Botak. 


Saat menjabat Kapolda, ia berhasil menutup total tambang ilegal di Kabupaten Buru.


Wartawan media ini melaporkan, Irjen Royke Lumowa bersama rombongan tiba di Namlea, pada hari Jumat siang lalu (05/03/2021) dan baru mengunjungi Gunung Botak Sabtu (06/03/2021).


Wartawan yang mendapat kabar kedatangan Royke Lumowa dan rombongan ke GB itu sudah stand by guna mengikuti perjalanannya. Namun tiba-tiba saja ada informasi dari Humas Polres dan beberapa perwira polisi, kalau kunjungan Royke kali ini tidak mau diliput media.


Informasi yang berhasil dihimpun lebih jauh menyebutkan, kalau Royke datang ke Gunung Botak hanya ditemani Prof, Dr Martinus Male dari Universitas Pattimura dan dua perwira pertama dari Reskrimsus Polda Maluku.

Selama kunjungan singkat itu, ia didampingi Wakapolres Kompol Backhrie Hehanussa, Kasat Intel dan Kapolsek Waeapo.


Kehadiran Royke membawa peneliti senior dari UNPATTI  dalam rangka Studi Penelitian dampak aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Gunung Botak  dan upaya menuju pertambangan emas yang berkelanjutan tanpa gunakan bahan merkuri.


Tiba di kawasan GB, rombongan Royke bertemu Matatemun Yohanes Nurlatu dan kepala soa Robo Nurlatu di rumahnya. Dari sana Royke dan rombongan menuju Pos Pengamanan di Sungai Anahoni dan bertemu sejumlah tokoh adat.


Selanjutnya Martinus Male di hadapan tokoh adat menjelaskan maksud kunjungan itu dalam rangka studi penelitian. Ia sempat menyentil kalau di Indonesia terdapat kurang lebih 200 titik spot yang mengandung potensi kandungan emas dengan pengolahan serta  kendala berbeda pula.


Martinus Male berharap, penelitian ini akan menjadi Holding. Untuk mencapai hasil studi yang baik, akan dijaring tentang dampak fisika maupun kimia, juga dampak sosial ekonomi dari kegiatkan PETI di GB yang mulai marak sejak November tahun 2012 lalu.

Aktifitas ilegal di GB ini mulai terhenti setelah ditutup paksa sejak 15 Nopember 2015 lalu. Namun beberapa saat kembali bergeliat, sehingga aparat keamanan sering kali melakukan penertiban. GB benar-benar besih dari tambang ilegal saat Irjen Pol Royke menjabat Kapolda Maluku. Studi ini juga akan menyentuh harapan masyarakat tentang metode atau teknik ekstraksi emas yang ramah lingkungan, guna menjamin pertambangan emas berkelanjutan.


"Praktik pertambangan yang mendasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan berperan penting bagi pencapaian pembangunan nasional dan pada akhirnya kesejahteraan rakyat secara umum," kata Male. 


Pada kesempatan itu rombongan juga menanyakan tentang sejarah  tambang Gunung Botak mulai dari awal mula, mekanisme kerja, cara pengolahan, kendala selama aktifitas penambangan dan Dampak Ekonomi bagi masyarakat.


Dari Anahoni, Royke dan rombongan menuju Kota Tua Kayeli dan bersua dengan warga di Balai Desa Kayeli. Royke sempat mengingatkan masyarakat terhadap dampak kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal.

Masyarakat yang berkumpul di Balai Desa diberi angket studi untuk diisi sesuai dengan fakta yang mereka alami selama ada tambang di GB.


Dalam kesempatan itu, Abdullah Wael meminta agar pengamanan di GB juga dilakukan tokoh adat, dengan alasan pintu masuk ke sana cukup banyak.(OR/LTO)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama