Close
Close

Dugaan Korupsi Dana Desa Atiahu Mulai Tercium




Lagu Terbaik Tahun 2021

Kantor Desa Atiahu Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. 

SBT, Orasirakyat.com
Dugaan Korupsi Dana Desa Atiahu Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, diduga bermasalah, karena beberapa item kegiatan setiap tahun anggaran diduga Fiktif. Hal ini diungkapkan oleh salah satu sumber kepada media ini, Minggu (28/3/2021).


Sumber yang enggang namanya dipublis ini menjelaskan, dugaan korupsi dana Desa pada Negeri Atiahu oleh Kepala Negeri yang diketahui bernama, Muhamadiyah Wailissa tersebut mulai dari Tahun 2017 hingga 2021. 


Menurutnya, pada Tahun 2017, pihak Desa mengalokasi anggaran yang begitu besar untuk penanaman Kelapa yang dibagi dalam 5 Kelompok, namun sampai saat ini kelapa-kelapa tersebut entah ditanam di wilayah mana. Karena anggaran yang tertuang dalam APBDes nilainya sangat fantastis yaitu Rp,450.000.000.


"Anggaran besar, tetapi Beta (saya) tidak tahu kelapa ini dong (mereka) tanam dimana, karena seng (tidak) ada penanaman kelapa disana," ungkap Sumber ini.


Selain pengelolaan Dana Desa 2017, pengelolaan Dana Desa di 2018 hingga 2020 pun diduga bermasalah. Pasalnya, pada tahun Anggaran 2019, pihak Desa mengalokasikan Anggaran sebesar Rp,621.000.000 untuk pengadaan Sollar cell. 


Namun anggaran yang sangat fantastis ini, pihak Desa hanya membelanjakan 16 Unit dengan kapasitas 40 lumen/Watt. Olehnya itu,  ada dugaan kuat terjadi Mark up terkait dengan kegiatan tersebut. 


Selain di Tahun 2019, pada tahun Anggaran 2020 pihak Desa kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp 274.500.000 untuk pengadaan solar Cell, namun sampai saat ini belum dibelanjakan.


"Anggaran besar seperti ini, hanya belanjakan 16 Unit solar Cell saja. Katong (kami) duga ada Mark up di kegiatan ini. Untuk Tahun 2020 solar sell belum ada" tambah Sumber ini.


Sementara kepala Desa Atiahu, Muhamadiyah Wailissa saat dikonfirmasi media ini menjelaskan. Untuk tanaman kelapa pada Tahun Anggaran 2017, terhitung per anakan (bibit) Kelapa dibayarkan Rp,2.500/Anakan sehingga masing-masing orang menyiapkan 50 Anakan Kelapa.


Sementara kegiatan penanaman kelapa tersebut dibagi dalam 5 Kelompok. Ketika ditanya lebih lanjut terkait dengan item kegiatan tersebut, Kepala Desa justru beralasan bahawa dirinya mengkonfirmasikan dulu ke bendahara Desa lama.


"1 orang 50 pohon, dibayarkan Rp,2500. Ada 5 kelompok dan diserahkan lansung ke kelompok untuk kelola. Lengkapnya nanti Beta cek bendahara dulu," ucapnya.


Sementara untuk solar Cell, Wailissa mengatakan, pada Tahun anggaran 2019, pihak Desa membuat pengadaan solar Cell sebanyak 16 Unit dengan harga Rp,27.000.000/unit. Sementara anggaran yang digelontorkan begitu besar karena termasuk didalamnya biaya pekerjaan, biaya pengiriman, upah buruh karena pihak Desa sendiri yang melakukan pengadaan solar Cell.


Untuk tahun 2020 direncanakan 4 Unit, namun anggarannya masih masuk SILPA sehingga belum dibelanjakan pada tahun berjalan.


"Katong (kami) belum buat pengadaan di Tahun 2020 karena masuk SILPA, ada 4 unit. Untuk 2019 pihak Desa sendiri yang berangkat untuk belanjakan," katanya.


Sementara hasil penelusuran media ini lebih jauh terkait dengan harga solar Cell hanya 15 Juta/unit kapasitas 40 lumen/Watt, itu sudah termasuk didalamnya biaya pemasangan, bahkan bergaransi 2 tahun. 


Sehingga mencermati yang terjadi di Desa Atiahu dengan pagu yang begitu besar namun hanya 16 Unit yang dibelanjakan, maka dipastikan ada yang tida beres dalam pengelolaan Danan Desa pada item sarana dan prasarana energi alternatif tingkat Desa. (OR/Fer)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama